PC IMM BANGKALAN

Duiskusi Bid. Keilmuan

DISKUSI BIDANG KEILMUAN

TEMA :
"APATISME INTRA KAMPUS TERHADAP EKSTRA KAMPUS"
(Studi Kasus Univ. Trunojoyo)

Selasa, 23 Desember 2008
19.30 WIB
Tempat Sekretariat PC. IMM Bangkalan

Panelis:
  1. IMMawan Syaiful
  2. IMMawan Marzuki M.
CP: IMMawan Firman Ghazali Akhmadi (085257062506)
PC IMM BANGKALAN

Mengurai New Sketsa Gerakan Kader IMM

Mengurai New Sketsa Gerakan Kader IMM

By :

Aan Hariyanto

(KaBid Hikmah PC. IMM Bangkalan)

” Perubahan Tidak Hanya Segudang Konsepsi Dan Retorika Belaka Tetapi Bagaimana Kita Mulai Bergerak Untuk Merubah”.

Sebuah naratif besar pemikiran bahwa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) lahir atas dasar tujuan dan cita-cita besar serta mulia yaitu ”Mengusahakan Terbentuknya Akademisi Muslim Yang Berakhlak Mulia Dalam Rangka Mencapai Tujuan Muhammadiyah”. Sebuah pernyataan visi yang besar untuk menciptakan sebuah sinergitas tradisi keagamaan dan keilmuan dikalangan akademisi. Untuk itu perlunya transformasi Visi ke dalam gagasan atau ide pemikiran menjadi sebuah manifestasi gerakan Humanitas kader IMM. Kondisi yang menuntut kerja Ekstra dan memerlukan pergumulan pemikiran terus menerus dalam upayanya keluar dari kejumudan pemikiran teoritis dan tekstual.

Pokok-pokok pemikiran kader Seperti tertera pada Trikompetensi Dasar dan deklarasi-deklarasi serta tulisan-tulisan lepas tokoh-tokoh IMM inilah yang merupakan wujud dedikasi pergumulan Kecerdasan pemikiran intelektual yang cemerlang dan merupakan pondasi dasar yang menjadi ciri pembeda gerakan kader-kader IMM dengan elemen gerakan mahasiswa yang lain. Oleh sebab itu budaya mengkaji dan beraksi harus ditumbuh kembangkan sebagai alat untuk mencari akar permasalahan dan sebagai solusi permasalahan bangsa ini.

Sebagai sebuah organisasi kader (umat, bangsa dan persyarikatan) IMM harus mampu mencreate new movement dalam Bingkai sketsa gerakan yang memadukan adanya kecerdasan pemikiran dan perlunya tindakan nyata (riil) yang mampu dirasakan oleh semua lapisan masyarakat. IMM harus mampu secara aktif untuk turut serta dalam upaya pencerdasan dan pengembangan pola pikir, pendampingan secara langsung baik dibidang advokasi sosial kemasyarakat, advokasi pendidikan maupun advokasi politik sehingga, IMM mampu mengemban tugasnya sebagai organisasi kemahasiswaan yaitu sebagai agent of change, agent of information and social control.

Untuk itu IMM harus mampu menyingkirkan sekat-sekat yang selama ini menjadikan organisasi kemahasiswaan seperti kehilanggan roh dalam setiap aksinya yaitu jerat politik kekuasaan, budaya Hedonisme dan elitisme gerakan mahasiswa yang cenderung kurang peka terhadap lingkungan sosial kemasyarakatan. Oleh sebab itu, kader-kader IMM harus berani memainkan peran strategisnya dengan melakukan pembangunan wacana yang edukatif melaui media-media dan mulai melakukan pengawalan terhadap kebijakan publik pemerintah daerah serta mampu menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah dengan cara IMM sebagai regulator dan fasilitator setiap program pemerintah untuk mengoptimalkan peran publik, sehingga masyarakat dapat secara lansungmenikmati fasilitas publik yang tersedia.

Kader-kader IMM juga tidak boleh apatis terhadap politik praktis tetapi bagaimana kader-kader IMM yang didasarkan pada pencerdasan politik dengan turut aktif untuk membangun keteraturan sistem politik yang didasarkan pada politik nilai (nice political). Sebuah wawasan pembangunan budaya politik yang berdasar pada nilai-nilai sinergitas moral keagamaan dan intelektualitas dengan rasa nasionalisme yang berorientasi pada kesejatraan rakyat. Untuk itu penyadaran peran politik seluruh elemen masyarakat harus menjadi fokus utama sebagai salah satu wujud humanitas kader IMM dalam upaya membangun kedewasaan politik. Kader-kader IMM harus menjadi pionir dalam memplopori terbangunnya nice political system seperti yang telah dicontohkan M. Natsir.

Manifestasi Sketsa gerakan yang merujuk pada pengembangan dan pemberdayaan inilah yang harus dimantapkan sebagai Wujud peran dan eksistensi Humanitas kader-kader IMM sehingga, Trikompetensi Dasar yaitu Religiusitas, intelektualitas dan Humanitas bisa menjadi roh dari praksis gerakan IMM.

Perlu juga diingat bahwa Kader-kader IMM harus mampu mengurai makna dari sekian lama perjalan kita menapaki kelesuan dan kejenuhan ikatan yang secara historical perlu untuk menjadi pembahasan yang intens guna membangun organisasi yang modern dan profesional kedepanya.

Billahi fii sabilil haq fastabiqu khairat.

Bangkalan, 15 dec -08.

PC IMM BANGKALAN

Pelatihan Advokasi

Pemberdayaan masyarakat dapat diartikan sebagai suatu upaya untuk memulihkan atau meningkatkan keberdayaan suatu komunitas agar mampu berbuat sesuai dengan harkat dan martabat mereka dalam melaksanakan hak–hak dan tanggung jawab mereka sebagai komunitas manusia dan warga negara. Tujuan akhir pemberdayaan masyarakat adalah pulihnya nilai–nilai manusia sesuai harkat dan martabatnya sebagai pribadi yang unik, merdeka dan mandiri. (1) unik dalam konteks kemajemukan manusia, (2) merdeka dari segala belenggu internal maupun eksternal termasuk belenggu keduniawian dan kemiskinan (3) mandiri untuk mampu menjadi programer bagi dirinya dan bertangung jawab terhadap diri sendiri dan sesama.

Manusia yang berdaya adalah manusia yang mampu menjalankan harkat martabatnya sebagai manusia, merdeka dalam bertindak sebagai manusia dengan didasari akal sehat serta hati nurani. Artinya manusia tidak harus terbelenggu oleh lingkungan, akan tetapi semata–mata menjadikan nilai–nilai luhur kemanusiaan sebagai kontrol terhadap sikap perilakunya. Manusia dikaruniai hati nurani, sehingga mempunyai sifat-sifat baik dalam dirinya sesuai dengan fitrahnya.

Wujud dari keberdayaan sejati adalah kepedulian, kejujuran, bertindak adil, tidak mementingkan diri sendiri dan sifat–sifat baik lainnya. Manusia–manusia berdaya tidak akan merusak dan merugikan orang lain tetapi memberikan cinta kasih yang ada dalam dirinya kepada orang lain dengan tulus sehingga hidupnya bermakna bagi dirinya dan memberikan manfaat bagi lingkungan. Terciptanya komunitas yang berdaya seperti inilah yang akan bisa menanggulangi kemiskinan yang diakibatkan oleh lunturnya nilai–nilai kemanusiaan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai organisasi kemahasiswaan yang mempunyai peran sebagai agent of change, social control dan agent of information harus dapat menjadi pionir didepan dalam upaya untuk mengembangkan dan pemberdayaan masyarakat terutama di Kabupaten Bangkalan, sehingga tidak ada lagi hak-hak masyarakat yang termpas dan terabaikan.

Untuk itulah sebagai perwujudan dan pengamalan Trikompetensi Dasar IMM yaitu Humanitas kader sebagai analisis permasalahan yang ada maka, PC.IMM Kabupaten Bangkalan mencoba mencreate praksis gerakan sosial kemasyarakatan dengan mengadakan pelatihan pemberdayaan dan pengembangan masyarakat atau Sekolah Advokasi yang terangkai dalam bentuk kalimat tanya yaitu bagaimana Membingkai Gerakan Humanitas IMM Cabang Bangkalan ??.

Tujuan Kegiatan

Mengusahakan terbentuknya Home of HIKMAH yang merupakan rumah atautempat dari team advokasi yang professional dan kompeten guna Membangun progresifitas dan eksistensi Gerakan Sosial Kemasyarakatan (Humanitas) IMM Cabang Bangkalan dalam upayanya untuk pengabdian, pengembangan dan pemberdayaan masyarakat Bangkalan dalam wujud Desa Binaan.

Peserta kegiatan sekolah advokasi ini dibatasi maksimal hanya 20 orang peserta yang terdiri dari kader-kader potensial IMM Kabupaten Bangkalan.

Kegiatan ini akan dilaksanakan pada :

Hari : Sabtu s/d Minggu

Tanggal : 10 - 11 Januari 2009

Tempat : PKBM AISYIYAH SOCAH

CP : Aan Hariyanto (085746037398)