PC IMM BANGKALAN

PELANTIKAN BERSAMA DAN BEDAH BUKU


Buruan daftar tempat terbatas, CP: 085730410682/085232139169
PC IMM BANGKALAN

MUSLIMAH IDEAL

Resume dari kajian Immawati kemarin:
MUSLIMAH IDEAL
Peran muslimah dalam kehidupannya memiliki banyak peran diantaranya :
1. Muslimah sebagai istri
Istri sebagai sumber inspirasi suami, penyokong, dan pendukung. Rasulullah selalu baik dan menjalin hubungan silaturahim dengan kerabat dan sahabat mendiang Khadijah, walaupun istrinya itu telah tiada. Hal itu membuat Aisyah cemburu dan bertanya pada suaminya, ”Bukankah Allah telah memberi pengganti yang lebih baik?” tidak ada yang bisa menggantikan Khadijah untukku. Dia memberikan pembelaanya ketika semua orang memusuhiku, ia menguatkanku ketika aku berputus asa atas kaumku, ia memberikan hartanya untuk dakwah yang aku bawa dan dari rahimnya Allah memberiku keturunan tidak ada yang bisa mengantikannya di sisiku”.
Kisah Ummu Salamah ketka menjadi istri Abu Thalhah yang merawat dengan ketekunan suaminya sepulang perang dan ketika Ummu Salamah menjadi istri Rasulullah paska perjanjian Udaibiah. Istri sebagai sumber energi bagi suami begitu juga sebaliknya. ”Sebaik-baik istri adalah jika kamu pandai menyejukkan hatinya”. Apakah wanita yang menyejukkan hati seorang suami adalah istri yang berkulit putih dan berbibir merah? Pernikahan agung putri Rasulullah menjadi teladan dalam pernikahan pasangan muslim adalah wanita yang diriwayatkan melepuh tangannya karena menggiling gandum dan tentang Fatimah yang suaminya berkomentar singkat, jika aku memandangnya bilanglah kesusahan dan kesedihanku. Jadi menjadi sebaik-baik wanita bukanlah yang tercantik! Tapi ikatan yang penuh sakinah lahir dari kejernihan ruhiah tiap anggotanya(Qs.An-nur:26)
2. Muslimah sebagai angggota masyarakat
Bukan termasuk dalam golonganku yang tidak perduli dengan umatku. Jelaslah hadits tersebut mencerminkan pribadi yang dikehendaki oleh islam bukanlah pribadi yang dingin tidak merasa sesak atas permasalahan umat. Pernahkah kita berfikir bagaimana mengentaskan pelacuran, mengakhiri korupsi, anak jalanan, pengemis, kemiskinan dan lain-lain. Semua itu membangkitkan sensifitas sosial contoh dalam siroh dari muslimah adalah kepedulian.
3. Muslimah sebagai individu
Sebaik-baik muslimah adalah yang paling baik akhlak dan keimanannya. Imam tabrani meriwayatkan dari Anas Bin Malik, Rasulullah bersabda: ”Barangsiapa menikahi wanita karena kehormatannya (jabatannya) maka Allah akan menambahkan kepadanya kehinaan. ”Barangsiapa yang menikahi wanita karena nasab kemuliaanya maka Allah akan menambahkan kerendahan”. Tetapi nikahilah wanita itu karena agamanya. Sesungguhnya budak wanita yang hitam dan cacat, tetapi taat beragama adalah lebih baik (daripada wanita yang kaya cantik tapi tidak beragama)”.
4. Muslimah sebagai seorang ibu
”Tempatkanlah.........pada tempat yang baik karena watak orang tua akan berpengaruh pada anak-anak yang dilahirkan” menjadikan pedoman bagi laki-laki untuk menjadikan parameter keimanan dan akhlak dalam memilih pasangan.


”Apabila para wanitanya baik maka baiklah negeri tersebut, apabila buruk para wanitanya maka buruklah negeri itu”. Baik buruk sebuah negeri maka lihatlah para wanitanya. Para ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya peletak batu bata pertama yang menjadi dasar kepribadiannya. Maka bisa dibayangkan bagaimana generasi kaum muslimin jika para ibu dari anak-anak hari ini adalah yang seperti asma’, ibu-ibu seperti Fatimah...
Ingatlah pelatihan yang menyuruh untuk memegang dahi tapi yang dilakukan adalah memegang kening maka yang dilakukan......memberikan pertanda ....maka jadilah ibu yang baik! Untuk menjawab sebagian dari permasalah umat ini jadilah jawaban bukan jadi bagian dari masalah.
Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik dalam bergaul dalam keluarganya (paling baik pada istrinya)
Yang dimintai pertanggungjawaban bukan hanya ibu tapi orang tua yang termasuk didalamnya ayah dan ibu.


”Amaliyah Istisyahadiyah”
PC IMM BANGKALAN

Islam Kebangsaan KeNegaraan dan Islam Khilafah

Tsaqofah Islamiyah

Krisis Ideologi KeNegaraan

Islam Kebangsaan KeNegaraan dan Islam Khilafah

Hanafi Sukoco

(Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Bangkalan)

Ideologi merupakan sistem paham yang digunakan untuk landasan gerak suatu kelompok atau organisasi (Haedar Nashir,Meneguhkan Ideologi Gerakan Muhmmadiyah, 2007 : vii). Dalam hal ini yang kita bicarakan adalah tentang Ideologi Kenegaraan kita.

Berbagai masalah yang terjadi di negara Indonesia mulai dari masalah ekonomi, sosial, hukum, budaya, politik, pertahanan dan keamanan. Sebagai pelajar yang kritis dan tanggap akan kondisi kenegaraan kita, tentunya kita tahu bagaiman kondisi bangsa kita? Tambah baikkah, tau tambah Burukkah ?Mari kita mengerucut menyoroti tentang hukum di Indonesia, apakah sudah adilkah undang-undang dan sistem peradilan di Indonesia ? Tentu tidak..Bagaimana mungkin iya ? Lihat saja banyak yang salah menjadi benar dan yang salah pun begitu, banyak maling kelas gurem dikenai sangsi hukum yang lebih berat bahkan sangat berat dari pada yang memakan uang rakyat (koruptor) jutaan hingga triliunan rupiah ? Bagaimana hukum dan perundangan-undangan di Indonesia tentang masalah tatanan sosial kemasyrakatan, apakah sudah ada perundang-undangan yang jelas ?

Ideologi kenegaraan merupakan Sistem atau paham yang digunakan sebagai landasan gerak dan aturan main dalam suatu negara. Sistem Demokrasi telah diterapkan di Indonesia dan sistem-sistem yang lain, begitu pula di Negara yang lain diterapkan sistem yang sedemikian itu. Apakah sistem-sistem itu suadah bisa memecahkan suatu permasalahan yang komplek? Apakah suatu sistem atau Ideologi tidak bisa diubah? Ataukah takut untuk mengubahnya? Bagaimana dengan Sistem Ideologi Islam ?

Secara fungsional Islam, terutama sekali dapat diidentifikasi berdasarkan tempat asal usulnya; yakni merupakan teologi revolusioner dan sistematis serta gerakan yang secara seimbang diarahkan untuk menentang kebobrokan-kebobrokan sifat manusia seperti kebejatan akhlak, materialisme, tiran-tiran politik, perbudakan, kepitalisme, kolonialisme, eklesiatikal (kependetaan). Islam kini berada pada posisi yang hampir sama seperti pada masa awalnya, ketika ia menghadapi kebejatan akhlak bangsa Arab, Romawi dan Persia. Tetapi penekanan utama dari sistem islam adalah pengakuan akan kedaulatan tuhan sebagai penguasa mutlak bagi seluruh ummat manusia.

Khilafah bukanlah suatu negara Kebangsaan, akan tetapi ia merupakan system kenegaraan yang memiliki dasar Al-Qur'an dan Assunah Rasul, yang mempunyai tujuan yang jelas.

Mungkin dapat dikatakan bahwa negara islam sebagai negara yang utopis, karena dunia sekarang merasa asing, bahkan tak mengenal apa itu ciri dan sifat Negara Islam.

Ciri-ciri negara Islam:

Dengan memperhatikan perjalanan panjang yang telah ditempuh oleh negara – negara dengan ideologinya masing-masing, mulai dari sosialis, liberalis, sekularis, sampai demokratis. Bagaimana perjalanannya apakah telah sukses mengatur kehidupan kenegaraan, kerakyatan dan khususnya mengatur kehidupan Ummat Manusia, ataukah bahkan merusak tatanan sosial kemasyarakatan. Maka kini dunia hanya punya alternatif untuk menengok kepada Islam. Islam pernah mengibarkan panji kejayaan selama kurang lebih tujuh abad dan mewariskan peradaban dan ilmu pengetahuan kepada dunia sampai sekarang. Hal ini disebabkan Islam mendirikan negara berdasar wahyu yang terlepas dari dari ide dasar kebangsaan, ikatan dinasti, suku, ikatan darah, ikatan kelas dan kepentingan duniawi lainnya. Islam menegakkan negara berdasar prinsip Tauhid dan bertujuan membawa ummat manusia kepada tata nilai akhlak yang mulia. Dalam upaya mendirikan negara pertama kali di Madina ( yang sebelumnya bernama Yatsrib), Islam mengajak mengimani prinsip-prinsipnya, baik dalam masalah aqidah maupun muamalah, ibadah maupun hukum2 kenegaraan. Dengan keimanan kepada prinsip Islam dan kerelaan beribadah kepada ALLAH semata, maka islam mendirikan negara terlepas dari kepentingan golongan, bangsa ataupun doktrin kelompok dan pemimpin tertentu.

Tentu saja dengan corak dan prinsip yang masih asing bagi dunia dan telah diasingkan oleh kelompok non- Islam maka negara seperti ini masih dianggap utopis.untuk itu pada masa ini anda dapat menyaksikan kaum non-Islam bahkan ummat Islam sendiri tidak mengenal ciri khas proses perjuangan yang ditempuh Islam dalam mendirikan negara Islam. Maka orang2 Islam yang lahir dan dibesarkan dalam keluarga muslim tapi sehari-harinya hidup dalam pola pendidikan dan kebudayaan barat, terbentuk oleh teori2 sosial dan politik Barat, tidak bisa menerima apa yang disebut dengan negara Islam. Sesudah orang2 Islam yang hidup dalam lingkungan kebudayaan barat tersebut memperoleh kemerdekaan dari penjajah Barat, meskipun rakyat beragama Islam, namun dalam membentuk negaranya berdasar paham kebangsaan.

Bukan Islam kebangsaan atau Kenegaraan yang kita ingin terapkan Tetapi Islam khilfahlah solusinya, karena dalam negara yang berdasarkan kebangsaan dan sistem demokrasi, jika ummat Islamnya mayoritas, tidak secara otomatis aspirasi politik islami mereka tersalurkan dengan baik. Sebab cara2 perjuangan yang didasarkan kebangsaan dengan sistem politik demokrasinya, sama sekali tidak tepat untuk menyalurkan aspurasi politik ummat Islam. Contoh bagaimana sulitnya ummat Islam memperjuangkan RUU pendidikan, bagaimana sangat sulitnya tututan ummat Islam untuk memperjuangka RUU pornografi dan pornoaksi, bagaimana sulitnya tuntutan ummat Islam kepada pemerintah untuk membubarkan Ahmadiyah (Aliran Sesat dalam Islam) dll.Inilah gaya dan cara yang dilakukan negara2 kebangsaan di seluruh dunia, dengan tujuan memelihara ciri kebangsaannya dan menghilangkan unsur ketuhanan (khusunya Islam) dari sistem kenegaraan, dan itu bisa dikatan sebagai upaya mengembangkan sekularisme.

Ciri lain negara Islam adalah didirikan berdasarkan prinsip Tauhid, bahwa kekuasaan adalah milik ALLAH semata. Atas dasar ini, maka Islam menetapkan bahwa seluruh bumi milik ALLAH. ALLAH-lah yang memelihara dan mengedalikan segala urusan-Nya. Karena itu masalah pemerintahan, perundang-undangan dan hukum untuk mengatur tata kehidupan ummat hanya menjadi wewenang ALLAH. Tidak ada seorangpun yang berhak dan berwenang membuat undang2 dan hukum bagi dirinya sendiri.

Manusia hanya sebagai pelaksana apa yang telah diamanatkan ALLAH kepadanya. Kedudukannya sebagai khalifah hanya dianggap sah bila memenuhi dua kriteria yaitu :

1. Diangkat sebagai Rasul ALLAH, atau

2. Mengikuti sepenuhnya ajaran Rasul dan setia kepada undang2 yang ditetapkan ALLAH.

Seseorang yangditunjuk orang2 beriman dan taat kepada undang2 ALLAH, berkedudukan sebagai wakil ummat atau Khalifah. Kedudukannya sebagai khalifah, disebabkan persetujuan ummat terhadapnya.

Negara yang berdasarkan prinsip Islam, 100% berbeda dengan negara2 non-Islam, baik bentuknya, dasarnya maupun sifatnya. Bentuk, dasar dan sifat negara yang berdasarkan Islam mengacu pada Wahyu, sehingga melahirkan akhlak dan perilaku yang khusus. Untuk itu seluruh perangkat yang dibutuhkan negara Islam, baik tentara, polisi, hakim, pegawai pajak, administrator, politik luar negeri, undang2 perang dan damai, seluruhya bebrbeda dengan negara non-Islam.

Semua itu ada dalam Alqur'an, barang siapa yang tidak percaya akan Sistem Pemerintahan Islam yang ciri2nya dan yang sudah ada di Alqur'an, maka pantaskah kita mengaku aku Islam ? Karena aku sudah menyekutukan ALLAH dengan lebih mengangungkan sistem atau aturan buatan manusia yang penuh dengan salah dan dosa. Bagaimana statusku ?

Bangkalan 17 Juni 2008

Sumber Bacaan :1.Alqur'an 2.Tatanan Sosial Islam Studi berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah oleh Prof. Dr. Abdurrahman Abdulkadir Kurdi. 3. Majalah Almuslimun edisi 383 pebruari 2002.4. Meneguhkan Ideologi Gerakan Muhmmadiyah oleh Haedar Nashir)

PC IMM BANGKALAN

INDONESIA BISA ?........

Saiful R A*

“INDONESIA BISA”, mungkin kata-kata ini yang akhir-akhir ini kita dengar di media elektronik, kata-kata itu adalah perwujudan dari semangat bangsa Indonesia dalam memperingati satu abad kebangkitan nasional, tetapi apakah dibenak hati anda tidak terlintas pertanyan “bisa?, Indonesia bisa apa?” pertanyaan besar dan mungkin adalah pekerjaan rumah bagi kita di tengah kondisi bangsa Indonesia yang sangat memprihatinkan.

Lantas kalau sekarang kita mengatakan Indonesia bisa, berarti sebelumnya Indonesia tidak bisa berbuat apa-apa untuk dirinya sendiri. Sebenarnya kata-kata itu telah di kumandangkan oleh presiden pertama kita Ir. Soekarno dalam pidatonya, beliau selalu mengatakan Indonesia harus bisa mandiri karena beliau sangat yakin jika kita mempunyai banyak hutang berarti kita tidak akan bisa berkembang dan maju, ternyata benar sekali pemikiran dari bung karno, kita dapat melihat realita sat ini, kita selaku bangsa yang merdeka seharusnya menjadi bangsa yang mandiri, tapi kenyataannya kita tidak bisa berbuat apa-apa dikarenakan hutang kita yang sudah terlalu banyak, saking banyaknya sampai-sampai kita tidak bisa membayar bunga dari pajak tersebut, mengapa bisa terjadi demikian?

Sepertinya hanya kita sebagai rakyat Indonesia sendiri yang bisa menjawab semua pertanyaan itu! Kita tidak mempuinyai kedudukan yang tinggi dan disegani oleh dunia barat, karena kita tidak dapat menjadi negara yang mandiri, negara yang dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Jika kita mau melangkah harus dan mungkin wajib untuk meminjam (hutang) ke negara besar (ambil contoh Amerika), walaupun dalam perjanjiannya banyak menguntungkan pemberi pinjaman dan merugikan kita.

Permasalahannya, Indonesia saat ini berada di ambang pintu kehilangan jati diri, karena sekarang Indonesia sudah tidak mempunyai martabat dan dipandang sebelah mata oleh negara asing, itu dikarenakan sikap pemerintah Indonesia yang mau tunduk saja kepada kepentingan asing, mau dijadikan boneka, jadi antek-antek asing untuk menyengsarakan rakyat.

Sekarang apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi dan menghilangkan penyakit bangsa itu?. Sebenarnya solusi untuk masalah seperti itu telah dikatakan dan dikumandangkan oleh Ir. Soekarno bahwa kita harus menjadi bangsa yang mandiri, kita mesti bisa meng-ekspor jangan bisanya cuma meng-impor barang, jati diri kita sebagai bangsa Indonesia yaitu bangsa yang merdeka harus dikuatkan dan dipertegas. Kita jangan cuma bisa meminjam kita harus bisa meminjamkan uang kita ke negara yang membutuhkan. Jadi, seiring dengan menjadi negara yang mandiri, negara-negara lain yang semula melihat kita sebelah mata pasti akan memandang kita, dan martabat kita sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat pasti akan diakuinya. Itulah serbenarnya hakekat dari INDONESIA BISA, BISA mensejahterakan rakyatnya, BISA memenuhi kebutuhan sendiri tanpa harus pinjam/hutang, BISA berkembang dan bergerak maju tanpa ada tekanan dari pihak asing dan yang terpenting BISA merdeka dengan makna merdeka yang sesungguhnya, yaitu tanpa ada penjajahan fisik ataupun penjajahan dalam bentuk apapun.

* Sekbid Hikmah PC. IMM Kabupaten Bangkalan



PC IMM BANGKALAN

MENUJU BANGSA BERMARTABAT

By: Miftahul Ulum*

Wacana menuju bangsa bermartabat bukanlah hal yang baru dalam percaturan bangsa ini dan selalu mendapatkan ruang untuk dibahas, yang membahaspun multilevel kalangan. Mulai dari kalangan orang yang biasa- biasa saja, orang biasa, orang yang kebiasaan, intelektual khusus, sampai pemerintah sendiri.
Pada tanggal 25 Januari 2008, Susilo Bambang Yudhoyono dalam kapasitasnya sebagai presiden Republik Indonesia menyampaikan pidato yang berjudul “Menuju Bangsa Indonesia Mandiri dan Bermartabat di Tengah Tuntutan Globalisasi” pada acara ulang tahun CIDES (Center for Information and Development Studies). Dalam pidatonya itu, SBY menyebutkan sepuluh kriteria untuk menjadi bangsa yang bermartabat/ terhormat. Pertama, bangsa yang bermartabat dapat diukur dari taraf hidup yang layak, bebas dari kemiskinan yang ekstrim. Kedua, dilihat dari kehidupan yang aman dan tertib, jauh dari kejahatan dan gangguan keamanan. Ketiga, apabila demokrasi dan kebebasan belum ada, terpasung tidak bisa mengekspresikan pikiran-pikiran kita, tentu kita belum bisa menjadi bangsa yang terhormat. Keempat, ekonomi yang sustainable dan tidak terjerat oleh hutang yang tinggi, yang di luar kemampuan bangsa itu, termasuk generasi berikutnya untuk melunasinya. Kelima, bisa juga diukur martabat dan kehormatan ini adalah pemerintah yang baik, good governance, celean government, terbebas dari korupsi yang kronis. Keenam, pemeliharaan lingkungan yang baik untuk kepentingan bangsa di masa depan, untuk planet kita, bumi kita juga menjadi ukuran kehormatan sebuah bangsa. Ketujuh, pendididikan yang maju, termasuk penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Makin cerdas bangsa itu, makin maju teknologinya, makin terhormat di mata bangsa- bangsa yang lain. Kedelepan, kesehatan yang layak. Kesembilan, ini saya kira Saudara boleh setuju atau tidak, tapi saya ingin negara kita maju dibidang olah raga memiliki citra, image yang baik secara internasional. Kesepuluh, kita mesti memiliki peran internasional yang baik, yang aktif, yang diakui, yang konstruktif, baik di tingkat perserikatan bangsa- bangsa maupun ketika kita berperan di banyak persoalan di seluruh dunia (www.cidesonline.org, 2008).
Secara teoritis, sepuluh sektor yang digagas SBY itu, menurut hemat penulis sudah cukup untuk sekedar merepresentasikan sebuah bangsa ideal sehingga pantas menyandang predikat bermartabat. Namun demikian, hal itu juga membuktikan bahwa bangsa Indonesia sekarang, nanti, dan seterusnya tidak hanya membutuhkan konsep teoritis-retoris, melainkan sebuah kerja nyata berdasarkan keberanian hati nurani. Berani untuk tidak melindungi pejabat atau orang “besar” yang salah, berani untuk tidak melindungi oknum yang telah jelas- jelas menggerogoti negara dalam arti luas, berani untuk tidak menjadi bangsa yang bermental inlander, serta berani untuk menempuh jalan terjal menuju kehormatan bangsa itu sendiri. Jika saja setiap elemen bangsa ini mempunyai komitmen kolektif untuk melihat persoalan- persoalan krusial-aktual kebangsaan, maka sudah pasti akan menadapati bangsa tercinta ini sedang berada dalam ambang kenistaan, bukan dalam koridor kehormatan!
Sebagai salah satu bukti bahwa bangsa ini sedang berada dalam koridor kenistaan adalah data pemerintah sendiri yang menyatakan bahwa 16,58 persen atau sekitar 37,2 juta orang Indonesia hidup dalam garis kemiskinan. Bahkan, menurut perkiraan Pusat Penelitian Ekonomi LIPI angka kemiskinan itu masih akan membengkak menjadi 21,92 persen atau sekitar 41,7 juta orang pasca kenaikan harga BBM (Jawa Pos, 17- 06- 2008). Selintas, kebijakan pemerintah ini justru tidak sesuai dengan konsep ideal yang digagas sendiri, yaitu untuk menyetarakan taraf hidup yang layak agar bebas dari kemiskinan. Apalagi, fenomena kenaikan harga BBM ini justru merembes pada ranah kenyamanan kehidupan bersama akibat aksi penolakan mahasiswa di berbagai wilayah yang tak jarang berujung bentrokan dengan aparat, penutupan jalan umum, dan lain sebagainya. Itu pun, hanya di satu sector saja. Belum lagi, di sektor lain yang tak kalah ironisnya.
Dalam sektor keamanan dan pertahanan, Indonesia masih belum mampu menunjukkan kapabilatasnya sebagai bangsa yang bermartabat. Terlalu banyak kasus yang tak tertangani dengan baik. Dengan sangat terpaksa, kita harus rela mempersembahkan ambalat kepada Malaysia. Setiap hari, sekian ton ikan di perairan Indonesia menjadi makanan empuk kapal penjarah asing. Dalam sektor kemandirian ekonomi, kita bisa sedikit berbangga karena ketergantungan kepada IMF akan segera berakhir. Tetapi, kekalahan dan ketergantungan kita pada korporat asing tampaknya masih tetap menjadi fenomena yang semakin menjatuhkan martabat bangsa ini. Dan masih banyak lagi seabrek problema bangsa yang menuntut karya nyata, bukan hanya teoritis-retoris.
Oleh karena itu, penulis menjadi tidak tertarik lagi untuk mengulas secara rigid-teoritis problem- problem itu. Mengapa? Selain karena problemnya terlalu komleks dan sudah banyak elemen bangsa yang membahasnya, sejatinya yang paling subatansial adalah aksi dan kerja nyata. Dengan demikian, dari pada hanya sibuk membahasnya ansich, lebih baik kita mulai menyumbangkan karya nyata yang lebih substansial sesuai dengan kapasitas kita masing- masing demi bangsa Indonesia yang lebih bernartabat.

*Kabid keilmuan Komisariat Al-khawarizmi FT Unijoyo