PC IMM BANGKALAN

Duiskusi Bid. Keilmuan

DISKUSI BIDANG KEILMUAN

TEMA :
"APATISME INTRA KAMPUS TERHADAP EKSTRA KAMPUS"
(Studi Kasus Univ. Trunojoyo)

Selasa, 23 Desember 2008
19.30 WIB
Tempat Sekretariat PC. IMM Bangkalan

Panelis:
  1. IMMawan Syaiful
  2. IMMawan Marzuki M.
CP: IMMawan Firman Ghazali Akhmadi (085257062506)
PC IMM BANGKALAN

Mengurai New Sketsa Gerakan Kader IMM

Mengurai New Sketsa Gerakan Kader IMM

By :

Aan Hariyanto

(KaBid Hikmah PC. IMM Bangkalan)

” Perubahan Tidak Hanya Segudang Konsepsi Dan Retorika Belaka Tetapi Bagaimana Kita Mulai Bergerak Untuk Merubah”.

Sebuah naratif besar pemikiran bahwa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) lahir atas dasar tujuan dan cita-cita besar serta mulia yaitu ”Mengusahakan Terbentuknya Akademisi Muslim Yang Berakhlak Mulia Dalam Rangka Mencapai Tujuan Muhammadiyah”. Sebuah pernyataan visi yang besar untuk menciptakan sebuah sinergitas tradisi keagamaan dan keilmuan dikalangan akademisi. Untuk itu perlunya transformasi Visi ke dalam gagasan atau ide pemikiran menjadi sebuah manifestasi gerakan Humanitas kader IMM. Kondisi yang menuntut kerja Ekstra dan memerlukan pergumulan pemikiran terus menerus dalam upayanya keluar dari kejumudan pemikiran teoritis dan tekstual.

Pokok-pokok pemikiran kader Seperti tertera pada Trikompetensi Dasar dan deklarasi-deklarasi serta tulisan-tulisan lepas tokoh-tokoh IMM inilah yang merupakan wujud dedikasi pergumulan Kecerdasan pemikiran intelektual yang cemerlang dan merupakan pondasi dasar yang menjadi ciri pembeda gerakan kader-kader IMM dengan elemen gerakan mahasiswa yang lain. Oleh sebab itu budaya mengkaji dan beraksi harus ditumbuh kembangkan sebagai alat untuk mencari akar permasalahan dan sebagai solusi permasalahan bangsa ini.

Sebagai sebuah organisasi kader (umat, bangsa dan persyarikatan) IMM harus mampu mencreate new movement dalam Bingkai sketsa gerakan yang memadukan adanya kecerdasan pemikiran dan perlunya tindakan nyata (riil) yang mampu dirasakan oleh semua lapisan masyarakat. IMM harus mampu secara aktif untuk turut serta dalam upaya pencerdasan dan pengembangan pola pikir, pendampingan secara langsung baik dibidang advokasi sosial kemasyarakat, advokasi pendidikan maupun advokasi politik sehingga, IMM mampu mengemban tugasnya sebagai organisasi kemahasiswaan yaitu sebagai agent of change, agent of information and social control.

Untuk itu IMM harus mampu menyingkirkan sekat-sekat yang selama ini menjadikan organisasi kemahasiswaan seperti kehilanggan roh dalam setiap aksinya yaitu jerat politik kekuasaan, budaya Hedonisme dan elitisme gerakan mahasiswa yang cenderung kurang peka terhadap lingkungan sosial kemasyarakatan. Oleh sebab itu, kader-kader IMM harus berani memainkan peran strategisnya dengan melakukan pembangunan wacana yang edukatif melaui media-media dan mulai melakukan pengawalan terhadap kebijakan publik pemerintah daerah serta mampu menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah dengan cara IMM sebagai regulator dan fasilitator setiap program pemerintah untuk mengoptimalkan peran publik, sehingga masyarakat dapat secara lansungmenikmati fasilitas publik yang tersedia.

Kader-kader IMM juga tidak boleh apatis terhadap politik praktis tetapi bagaimana kader-kader IMM yang didasarkan pada pencerdasan politik dengan turut aktif untuk membangun keteraturan sistem politik yang didasarkan pada politik nilai (nice political). Sebuah wawasan pembangunan budaya politik yang berdasar pada nilai-nilai sinergitas moral keagamaan dan intelektualitas dengan rasa nasionalisme yang berorientasi pada kesejatraan rakyat. Untuk itu penyadaran peran politik seluruh elemen masyarakat harus menjadi fokus utama sebagai salah satu wujud humanitas kader IMM dalam upaya membangun kedewasaan politik. Kader-kader IMM harus menjadi pionir dalam memplopori terbangunnya nice political system seperti yang telah dicontohkan M. Natsir.

Manifestasi Sketsa gerakan yang merujuk pada pengembangan dan pemberdayaan inilah yang harus dimantapkan sebagai Wujud peran dan eksistensi Humanitas kader-kader IMM sehingga, Trikompetensi Dasar yaitu Religiusitas, intelektualitas dan Humanitas bisa menjadi roh dari praksis gerakan IMM.

Perlu juga diingat bahwa Kader-kader IMM harus mampu mengurai makna dari sekian lama perjalan kita menapaki kelesuan dan kejenuhan ikatan yang secara historical perlu untuk menjadi pembahasan yang intens guna membangun organisasi yang modern dan profesional kedepanya.

Billahi fii sabilil haq fastabiqu khairat.

Bangkalan, 15 dec -08.

PC IMM BANGKALAN

Pelatihan Advokasi

Pemberdayaan masyarakat dapat diartikan sebagai suatu upaya untuk memulihkan atau meningkatkan keberdayaan suatu komunitas agar mampu berbuat sesuai dengan harkat dan martabat mereka dalam melaksanakan hak–hak dan tanggung jawab mereka sebagai komunitas manusia dan warga negara. Tujuan akhir pemberdayaan masyarakat adalah pulihnya nilai–nilai manusia sesuai harkat dan martabatnya sebagai pribadi yang unik, merdeka dan mandiri. (1) unik dalam konteks kemajemukan manusia, (2) merdeka dari segala belenggu internal maupun eksternal termasuk belenggu keduniawian dan kemiskinan (3) mandiri untuk mampu menjadi programer bagi dirinya dan bertangung jawab terhadap diri sendiri dan sesama.

Manusia yang berdaya adalah manusia yang mampu menjalankan harkat martabatnya sebagai manusia, merdeka dalam bertindak sebagai manusia dengan didasari akal sehat serta hati nurani. Artinya manusia tidak harus terbelenggu oleh lingkungan, akan tetapi semata–mata menjadikan nilai–nilai luhur kemanusiaan sebagai kontrol terhadap sikap perilakunya. Manusia dikaruniai hati nurani, sehingga mempunyai sifat-sifat baik dalam dirinya sesuai dengan fitrahnya.

Wujud dari keberdayaan sejati adalah kepedulian, kejujuran, bertindak adil, tidak mementingkan diri sendiri dan sifat–sifat baik lainnya. Manusia–manusia berdaya tidak akan merusak dan merugikan orang lain tetapi memberikan cinta kasih yang ada dalam dirinya kepada orang lain dengan tulus sehingga hidupnya bermakna bagi dirinya dan memberikan manfaat bagi lingkungan. Terciptanya komunitas yang berdaya seperti inilah yang akan bisa menanggulangi kemiskinan yang diakibatkan oleh lunturnya nilai–nilai kemanusiaan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai organisasi kemahasiswaan yang mempunyai peran sebagai agent of change, social control dan agent of information harus dapat menjadi pionir didepan dalam upaya untuk mengembangkan dan pemberdayaan masyarakat terutama di Kabupaten Bangkalan, sehingga tidak ada lagi hak-hak masyarakat yang termpas dan terabaikan.

Untuk itulah sebagai perwujudan dan pengamalan Trikompetensi Dasar IMM yaitu Humanitas kader sebagai analisis permasalahan yang ada maka, PC.IMM Kabupaten Bangkalan mencoba mencreate praksis gerakan sosial kemasyarakatan dengan mengadakan pelatihan pemberdayaan dan pengembangan masyarakat atau Sekolah Advokasi yang terangkai dalam bentuk kalimat tanya yaitu bagaimana Membingkai Gerakan Humanitas IMM Cabang Bangkalan ??.

Tujuan Kegiatan

Mengusahakan terbentuknya Home of HIKMAH yang merupakan rumah atautempat dari team advokasi yang professional dan kompeten guna Membangun progresifitas dan eksistensi Gerakan Sosial Kemasyarakatan (Humanitas) IMM Cabang Bangkalan dalam upayanya untuk pengabdian, pengembangan dan pemberdayaan masyarakat Bangkalan dalam wujud Desa Binaan.

Peserta kegiatan sekolah advokasi ini dibatasi maksimal hanya 20 orang peserta yang terdiri dari kader-kader potensial IMM Kabupaten Bangkalan.

Kegiatan ini akan dilaksanakan pada :

Hari : Sabtu s/d Minggu

Tanggal : 10 - 11 Januari 2009

Tempat : PKBM AISYIYAH SOCAH

CP : Aan Hariyanto (085746037398)

PC IMM BANGKALAN

“Muhammadiyah dan HAM”

Mewajibkan buku “kemuhammadiyahan berwawasan HAM” di sekolah-sekolah Muhammadiyah sebaiknya ditinjau kembali. Dikaji cermat oleh para ulama yang benar-benar mengerti tentang Islam. Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-147

Oleh: Adian Husaini

Selasa (28 Oktober 2008) lalu, dalam sebuah acara pengajian di lingkungan warga Muhammadiyah, saya menerima sebuah buku berjudul Pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Berwawasan HAM (Buku Panduan Guru). Di dalam pengantarnya, buku ini dicanangkan sebagai buku wajib yang harus dipelajari oleh semua siswa dan guru di sekolah-sekolah Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Juga dikatakan, bahwa buku ini ”telah sesuai dengan prinsip dasar ajaran Muhammadiyah yang bersumber pada Al-Qur’an dan Al-Sunnah serta berlandaskan HAM.”

Disebutkan juga, bahwa naskah buku ini disiapkan oleh Maarif Institute for Culture and Humanity, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang didirikan oleh Prof. Syafii Maarif, mantan ketua PP Muhammadiyah. Direktur Program Maarif Institute mengakui, bahwa penerbitan buku ini juga didukung oleh New Zealand Agency for International Development (NZAID).

Karena ditulis sebagai buku wajib untuk seluruh siswa dan guru Muhammadiyah, maka tentu saja buku ini wajib dicermati. Sebagaimana umat Islam lainnya, warga Muhammadiyah sudah terbiasa menegaskan paham keagamaannya dengan berdasar kepada Al-Quran dan Sunnah. Untuk mempertegas metodologi dalam pemahaman Al-Quran dan Sunnah, ada yang memperjelasnya dengan tambahan: ’ala manhaj salafus-shalih. Maka, umat Islam akan merasa aneh ketika mendengar ungkapan, ”sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah serta berlandaskan HAM.”

Jadi, menurut buku ini, tidaklah cukup dalam ber-Islam, kita hanya berdasarkan kepada Al-Quran dan Sunnah saja. Tapi, masih harus ditambah lagi dengan kaedah ”berlandaskan HAM” atau ”berwawasan HAM.” Gampangnya, HAM harus dijadikan sebagai landasan, sebagai tolok ukur, dalam melihat Islam, dalam memahami Al-Quran dan Sunnah. Sebab, HAM itu sesuai dengan Islam. Bahkan, tulis buku ini: ”Islam datang menawarkan sejumlah upaya untuk liberasi, membebaskan manusia dari seluruh bentuk penistaan, penindasan, dan pelanggaran atas HAM. Islam juga sangat menekankan humanisasi, memanusiakan manusia secara adil dan seimbang.” (hal. 7).

Karena sudah meletakkan HAM sebagai dasar dalam memahami Al-Quran dan Sunnah itulah, maka buku ini berupaya mengajak kita agar mendukung dan menerapkan isi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM). Ditulis dalam buku ini:

”Deklarasi ini berisi 30 pasal yang dirancang untuk mencapai standar bersama tentang hak dan kebebasan bagi semua orang dan bangsa. Secara individu maupun kolektif, kita semua harus secara terus-menerus mengupayakan terpenuhinya hak-hak kebebasan tersebut. Tentu saja ini bisa disebarluaskan dan ditanamkan melalui pengajaran dan pendidikan.” (hal. 9).

Upaya untuk meletakkan HAM di atas Al-Quran dan Sunnah akan selalu ditolak oleh umat Islam. Umat Islam lazimnya melihat HAM, demokrasi, kesetaraan gender, dan berbagai paham atau gagasan baru dengan kacamata Al-Quran dan Sunnah. Kaum sekuler, akan berpikir sebaliknya. Mereka melihat Al-Quran dan Sunnah dengan kacamata HAM. Padahal, jika dicermati, konsep HAM itu sendiri masih merupakan konsep yang bermasalah. Ada yang bisa diterima dalam Islam, dan ada yang tidak bisa diterima.

Karena itulah, pada tahun 1990, negara-negara Islam yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) menghasilkan ”Deklarasi Kairo” (The Cairo Declaration on Human Rights in Islam), sebagai ”tandingan” dari DUHAM yang dikeluarkan di San Francisco pada 24 Oktober 1948. Pasal 25 Deklarasi Kairo menegaskan: ”The Islamic Syariah is the only source of reference for the explanation or clarification of any of the articles of this Declaration.” (Syariat Islam adalah satu-satunya penjelasan atau klarifikasi dari semua artikel dalam Deklarasi Kairo ini).

Jadi, dalam Deklarasi Kairo, negara-negara Islam telah sepakat untuk meletakkan syariat Islam di atas HAM. Bukan sebaliknya: meletakkan Islam di bawah HAM. Karena itulah, ada sejumlah pasal Deklarasi Kairo yang merupakan koreksi terhadap DUHAM. Sebagai contoh, dalam konsep perkawinan. DUHAM pasal 16 menyatakan: ”Men and women of full age, without any limitation due to race, nationality or religion, have the right to marry and to found a family. They are entitled to equal rights as to marriage, during marriage and at its dissolution.” (Laki-laki dan wanita yang telah dewasa, tanpa dibatasi faktor ras, kebangsaan atau agama, memiliki hak untuk menikah dan membentuk keluarga. Mereka mempunyai hak yang sama terhadap pernikahan, selama pernikahan, dan saat perceraian).

Dalam Deklarasi Kairo, soal perkawinan ditegaskan dalam pasal 5 yang bunyinya: ”The family is the foundation of society, and marriege is the basis of its formation. Men and women have the right to marriege, and no restrictions stemming from race, colour or nationality shall prevent them from enjoying this right.” (Keluarga adalah fondasi masyarakat, dan perkawinan adalah basis pembentukannya. Laki-laki dan wanita memiliki hak untuk menikah dan tidak boleh ada pembatasan dalam soal ras, warna kulit, dan kebangsaan yang menghalangi mereka untuk menikmati hak tersebut).

Dari sini kita paham bahwa negara-negara Islam telah sepakat untuk menolak mengabaikan faktor agama dalam pernikahan. Sebab, memang ajaran Islam mengatur masalah perkawinan dengan jelas dan tegas. Wanita muslimah haram menikah dengan laki-laki kafir (non-Muslim). Bagi kaum Muslim, faktor agama adalah soal mendasar dalam membangun tali ikatan kasih sayang. Tidaklah mungkin dua manusia yang berbeda iman akan dapat membangun tali kasih sayang yang sejati.

”Kamu tidak akan jumpai suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara, atau pun keluarga mereka.” (QS al-Mujadilah:22).

DUHAM dirumuskan dengan berbasis paham humanisme sekuler, yang meletakkan faktor ”kemanusiaan” lebih tinggi dari pada agama. Bagi mereka, agama disamakan dengan faktor ras dan kebangsaan; agama bukanlah hal yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan perkawinan. Jika dua insan sudah saling mencintai, maka faktor apa pun – termasuk agama dan jenis kelamin – tidak boleh menghalangi mereka untuk melaksanakan pernikahan. Itu kata DUHAM.

Tapi, tidak!, kata umat Islam. Deklarasi Kairo menolak rumusan hak perkawinan ala DUHAM itu. Bagi kaum sekular, agama harus tunduk kepada HAM. Bagi kaum Muslim, HAM harus tunduk kepada ajaran Islam. Karena itulah, bagi seorang Muslim, tidak ada pilihan lain kecuali melihat segala sesuatu – termasuk HAM – dengan kacamata Islam. Itulah konsekuensi seorang memilih Islam. Prinsip Islam itu akan berbeda dengan orang sekuler yang menjadikan DUHAM sebagai kitab sucinya. Bagi mereka – sebagaimana ditegaskan dalam pasal 2 DUHAM -- bahwa setiap orang mempunyai hak dan kebebasan tanpa perbedaan apa pun, seperti perbedaan ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, termasuk agama.

Maka, dunia Islam tentu saja menolak prinsip seperti itu. Disamping soal pernikahan, Deklarasi Kairo juga menolak konsep kebebasan beragama ala DUHAM, sebagaimana tercantum dalam pasal 18:

“Everyone has the right to freedom of thought, conscience and religion; this right includes freedom to change his religion or belief, and freedom, either alone or in community with others and in public or private, to manifest his religion or belief in teaching, practice, worship and observance.” (Setiap orang mempunyai hak untuk bebas berpikir, berkeyakinan, dan beragama; hak ini mencakup hak untuk berganti agama atau kepercayaan, dan kebebasan -- baik sendiri atau di tengah masyarakat, baik di tempat umum atau tersendiri – untuk menyatakan agama atau kepercayaannya, dengan mengajarkannya, mempraktikkannya, beribadah atau mengamalkannya).

Jadi, DUHAM menjamin hak untuk pindah agama (hak untuk murtad). Sebagian kalangan yang menjadikan DUHAM sebagai kitab sucinya telah mendatangi Komnas HAM dan menuntut pembubaran MUI, karena MUI telah mengeluarkan fatwa sesat atas Ahmadiyah, agama Salamullah, dan sebagainya. Bagi mereka, HAM dan kebebasan adalah segala-galanya. Aturan-aturan agama yang dianggap bertentangan dengan DUHAM harus dibuang atau ditafsirkan ulang.

Deklarasi Kairo membuat konsep tandingan terhadap konsep kebebasan beragama versi DUHAM tersebut. Pasal 10 menegaskan:

“Islam is the religion of unspoiled nature. It is prohibited to exercise any form of compulsion on man or to exploit his poverty or ignorance in order to convert him to another religion or to atheism.” (Islam adalah agama yang murni (tidak rusak atau tercemar). Islam melarang adanya paksaan dalam bentuk apa pun untuk mengeksploitasi kemiskinan atau kebodohan seseorang untuk mengganti agamanya ke agama lain atau ke atheisme)

Karena berbasis pada pemikiran humanisme sekuler, maka DUHAM tidak memandang penting soal pergantian agama. Mau Islam, Kristen, atheis, atau apa pun, tidak dianggap penting. Bagi kaum sekuler, yang penting iman kepada HAM dan tidak melanggar kebebasan. Mereka juga tidak peduli, apakah suatu aliran keagamaan menyimpang atau melecehkan suatu agama atau tidak. Yang penting bebas beragama apa pun, aliran apa pun.

Padahal, dalam Islam, soal murtad adalah masalah yang sangat serius. “Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dan dia dalam keadaan kafir, maka hapuslah amal perbutannya di dunia dan akhirat, dan mereka itu penghuni neraka, dan mereka kekal di dalamnya.” (QS al-Baqarah:217).

Ulama Muhammadiyah terkenal, Prof. Dr. Hamka telah membuat kajian khusus tentang DUHAM, dalam satu makalah berjudul Perbandingan antara Hak-Hak Azasi Manusia Deklarasi PBB dan Islam. Terhadap pasal 18 DUHAM, Hamka memberikan kritik yang sangat tajam. Mengutip QS al-Baqarah ayat 217, Hamka menyatakan:

“Kalau ada orang-orang yang mengaku Islam menerima hak pindah agama ini buat diterapkan di Indonesia, peringatkanlah kepadanya bahwa ia telah turut dengan sengaja menghancurkan ayat-ayat Allah dalam al-Qur’an. Dengan demikian Islamnya sudah diragukan. Bagi umat Islam sendiri, kalau mereka biarkan program penghancuran Islam yang diselundupkan di dalam bungkusan (kemasan) Hak-hak Azasi Manusia ini lolos, berhentilah jadi muslim dan naikkanlah bendera putih, serahkanlah ‘aqidah dan keyakinan kepada golongan yang telah disinyalemen oleh ayat 217 Surat al-Baqarah itu; bahwa mereka akan selalu memerangi kamu, kalau mereka sanggup, selama kamu belum juga murtad dari Agama Islam.”

Terhadap pasal 16 DUHAM, yang mengabaikan faktor agama dalam pernikahan, Hamka juga menolak dengan keras. Dalam soal pernikahan, harus ada pembatasan soal agama.

“Tegasnya di sini bahwa Muslim yang sejati, yang dikendalikan oleh imannya, kalau hendak mendirikan rumah tangga hendaklah dijaga kesucian budi dan kesucian kepercayaan. Orang pezina jodohnya hanya pezina pula, orang musyrik, yaitu orang yang mempersekutukan yang lain dengan Tuhan Allah, jodohnya hanya sama-sama musyrik pula,” tulis Hamka.

Mengapa pasal 16 dan 18 DUHAM ditolak oleh Hamka?

“Sebab saya orang Islam. Yang menyebabkan saya tidak dapat menerimanya ialah karena saya jadi orang Islam, bukanlah Islam statistic. Saya seorang Islam yang sadar, dan Islam saya pelajari dari sumbernya; al-Qur’an dan al-Hadits. Dan saya berpendapat bahwa saya baru dapat menerimanya kalau Islam ini saya tinggalkan, atau saya akui saja sebagai orang Islam, tetapi syari’atnya tidak saya jalankan atau saya bekukan,” demikian Hamka.

Demikianlah, memang ada yang sangat bermasalah dalam konsep HAM yang tertera dalam DUHAM. Karena itu, konsep HAM justru perlu diletakkan dalam kacamata Islam. Itulah yang dilakukan Prof. Hamka, dan juga OKI, sehingga sampai muncul Deklrasi Kairo. Sayangnya, buku Al-Islam dan Kemuhammadiyahan produksi Maarif Institute ini tidak mengklarifikasi soal HAM terlebih dulu, tetapi justru mencarikan legitimasinya dalam ajaran Islam. Cara pandang semacam ini keliru.

Karena itu, sebelum buku ini dijadikan buku wajib di sekolah-sekolah Muhammadiyah, sebaiknya ditinjau kembali; dikaji dengan cermat oleh para ulama yang benar-benar mengerti tentang Islam. Sebenarnya, agenda pengajaran HAM bukanlah hal yang mendesak bagi umat Islam. Ini jelas agenda Barat. Padahal, negara-negara Barat itulah yang perlu ditraining tentang HAM, agar mereka tidak semena-mena memaksakan ideologinya kepada umat manusia. Agar mereka menghormati kaum Muslim. Jika mereka menghormati kebebasan manusia, harusnya mereka tidak ‘belingsatan’ melihat orang Islam yang menjalankan syariat agamanya. Katanya toleran dengan yang lain. Faktanya, mereka sangat sensitif dengan penerapan syariat Islam.

Tapi, sebaiknya kita berkaca pada diri sendiri. Seharusnya, sebagai umat, kita memiliki izzah, memiliki kehormatan diri, tidak mudah silau dengan konsep-konsep baru yang datang dari Barat. Bukan kita yang harusnya menerima dana dari mereka untuk mengubah ajaran Islam agar sesuai dengan cara pandang Barat. Harusnya kita malu melakukan hal itu. Harusnya, kita-lah yang mendidik orang-orang Barat agar mereka mengenal ajaran Islam dengan baik.

Memang, seperti dinyatakan oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss) dalam buku klasiknya, Islam at the Crossroads, imitasi terhadap pola pikir dan pola hidup Barat inilah yang merupakan bahaya terbesar dari eksistensi umat Islam. Kata Asad:

The Imitation – individually and socially – of the Western mode of life by Muslims is undoubtedly the greatest danger for the existence – or rather , the revival – of Islamic civilization.”

Kebanggaan akan nilai-nilai Islam itulah yang harusnya diajarkan kepada para pelajar Muslim, baik di sekolah-sekolah Muhammadiyah atau sekolah Islam lainnya. Semangat itu pula – bangga sebagai pengikut Nabi Muhammad saw -- yang sejak awal ditanamkan oleh pendiri Muhammadiyah, KH A. Dahlan. Karena itu, di kalangan Muhammadiyah, kita mengenal keteguhan Hamka dalam mempertahankan keteguhan pendiriannya.

Kita juga mengenal keteguhan Ki Bagus Hadikusumo, yang dengan tegas menolak menolak keharusan Saikeirei (membungkuk ke arah matahari terbit sebagai penghormatan kepada Kaisar Jepang). Penguasa Jepang di Yogya, Kolonel Tsuda, pernah memanggil Ki Bagus, sembari membentak: “Tuan Ki Bagus, saya minta agar Tuan memerintahkan kepada orang-orang Islam dan Muhammadiyah, serta murid-murid semua untuk melakukan Saikeirei!” Jawab Ki Bagus: “Tidak mungkin, karena agama Islam melarangnya.!” (Lihat, Siswanto Masruri, Ki Bagus Hadikusumo, Yogya: Pilar Media, 2005).

Mudah-mudahan kita bisa meneladani pemimpin kita yang tidak rela membungkuk kepada “penjajah”. [Jakarta, 30 Oktober 2008/www.hidayatullah.com

Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com
PC IMM BANGKALAN

Yusuf Qardhawi Serukan Persatuan Umat Islam dan Waspadai Kristenisasi

Di sela-sela konferensi internasional untuk membela kanjeng Nabi Muhammad di Kuwait ulama kharismatik Syeikh Yusuf al-Qardhawi, menyerukan persatuan Islam guna mewaspadai kristenisasi

Hidayatullah.com--Menjadi sangat disayangkan ketika di tengah-tengah pelbagai macam masalah dan krisis multidimensi yang kian melilit, umat Islam justru tidak bersatu dan bahu membahu untuk menyelesaikannya bersama-sama.

Demikian disampaikan ulama kharismatik dunia Islam, Syeikh Yusuf al-Qardhawi, di sela-sela konferensi internasional untuk membela kanjeng Nabi Muhammad (al-Mu'tamar al-Alami li Nashrah an-Nabi) yang digelar di Kuwait sejak awal bulan kemarin.

Ketua umum Persatuan Ulama Muslim Internasional itu juga menghimbau kepada umat Islam agar lebih bersungguh-sungguh menyebarkan dakwah ajaran agama Islam, dengan salah satu kunci utamanya yaitu saling bersatu dan memperdalam pemahaman agama mereka.

Di samping itu, Qardhawi juga mengingatkan kepada umat Islam, di Sudan khususnya, untuk mewaspadai praktek Kristenisasi (Tanshir) yang marak di bagian selatan negeri hitam tersebut. "Kristenisasi di Sudan bukan isapan jempol, tetapi tantangan yang benar-benar nyata," ungkap Qardhawi.

Terkait seminar yang mengusung tema besar "Membela Sosok Nabi Muhammad", Qardhawi mengatakan bahwa salah satu wujud pembelaan umat Islam kepada Nabi mereka adalah dengan memperdalam pemahaman mereka akan agama Islam, di samping memperdalam keimanan dan kecintaan kepada beliau. [alm/ahbar/iol/atjeng/www.hidayatullah.com]


PC IMM BANGKALAN

Emha Ainun Nadjib, Sang Pelayan yang Kontroversial

Emha Ainun Nadjib. Pria kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953, ini mengaku seorang pelayan. Suami Novia Kolopaking dan pimpinan Grup Musik Kyai Kanjeng, yang dipanggil akrab Cak Nun, itu memang dalam berbagai kegiatannya, lebih bersifat melayani yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik dan sinergi ekonomi. Semua kegiatan pelayannya ingin menumbuhkan potensialitas rakyat.

Bersama Grup Musik Kiai Kanjeng, Cak Nun rata-rata 10-15 kali per bulan berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, dengan acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Di samping itu, secara rutin (bulanan) bersama komunitas Masyarakat Padang Bulan, aktif mengadakan pertemuan sosial melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.

Dalam berbagai forum komunitas Masyarakat Padang Bulan itu, pembicaraan mengenai pluralisme sering muncul. Berkali-kali Cak Nun yang menolak dipanggil kiai itu meluruskan pemahaman mengenai konsep yang ia sebut sebagai manajemen keberagaman itu.

Dia selalu berusaha meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal, baik kesalahan makna etimologi maupun makna kontekstual. Salah satunya mengenai dakwah, dunia yang ia anggap sudah terpolusi. Menurutnya, sudah tidak ada parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah.

"Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang berbuat baik sudah berdakwah," katanya.

Karena itulah ia lebih senang bila kehadirannya bersama istri dan kelompok musik Kiai Kanjeng di taman budaya, masjid, dan berbagai komunitas warga tak disebut sebagai kegiatan dakwah. "Itu hanya bentuk pelayanan. Pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan hanya secara vertikal, tapi horizontal," ujarnya.

Emha merintis bentuk keseniannya itu sejak akhir 1970-an, bekerja sama dengan Teater Dinasti -- yang berpangkalan di rumah kontrakannya, di Bugisan, Yogyakarta. Beberapa kota di Jawa pernah mereka datangi, untuk satu dua kali pertunjukan.

Selain manggung, ia juga menjadi kolumnis. Emha anak keempat dari 15 bersaudara. Ayahnya, Almarhum MA Lathif, adalah seorang petani. Dia mengenyam pendidikan SD di Jombang (1965) dan SMP Muhammadiyah di Yogyakarta (1968). Sempat masuk Pondok Modern Gontor Ponorogo tapi kemudian dikeluarkan karena melakukan demo melawan pemerintah pada pertengahan tahun ketiga studinya.

Kemudian pindah ke SMA Muhammadiyah I, Yogyakarta sampai tamat. Lalu sempat melanjut ke Fakultas Ekonomi UGM, tapi tidak tamat. Lima tahun (1970-1975) hidup menggelandang di Malioboro, Yogya, ketika belajar sastra dari guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat memengaruhi perjalanan Emha berikutnya.

Karirnya diawali sebagai Pengasuh Ruang Sastra di harian Masa Kini, Yogyakarta (1970). Karirnya menanjak dan menjadi Wartawan/Redaktur di harian Masa Kini, Yogyakarta (1973-1976), sebelum menjadi pemimpin Teater Dinasti (Yogyakarta), dan grup musik Kyai Kanjeng hingga kini.

Penulis puisi dan kolumnis di beberapa media. Ia juga mengikuti berbagai festival dan lokakarya puisi dan teater. Di antaranya mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Universitas Iowa, AS (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985).

Karya Seni Teater Cak Nun memacu kehidupan multi-kesenian di Yogya. Bersama Halimd HD, networker kesenian melalui Sanggarbambu, aktif di Teater Dinasti dan mengasilkan beberapa reportoar serta pementasan drama.

Di antaranya: Geger Wong Ngoyak Macan (1989, tentang pemerintahan `Raja` Soeharto); Patung Kekasih (1989, tentang pengkultusan); Keajaiban Lik Par (1980, tentang eksploitasi rakyat oleh berbagai institusi modern); Mas Dukun (1982, tentang gagalnya lembaga kepemimpinan modern).

Selain itu, bersama Teater Salahudin mementaskan Santri-Santri Khidhir (1990, di lapangan Gontor dengan seluruh santri menjadi pemain, serta 35.000 penonton di alun-alun madiun). Lautan Jilbab (1990, dipentaskan secara massal di Yogya, Surabaya dan Makassar); dan Kiai Sableng dan Baginda Faruq (1993). Juga mementaskan Perahu Retak (1992, tentang Indonesia Orba yang digambarkan melalui situasi konflik pra-kerajaan Mataram, sebagai buku diterbitkan oleh Garda Pustaka), di samping Sidang Para Setan, Pak Kanjeng, Duta Dari Masa Depan.

Dia juga termasuk kreatif dalam menulis puisi. Terbukti, dia telah menerbitkan 16 buku puisi: "M" Frustasi (1976); Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978); Sajak-Sajak Cinta (1978); Nyanyian Gelandangan (1982); 99 Untuk Tuhanku (1983); Suluk Pesisiran (1989); Lautan Jilbab (1989); Seribu Masjid Satu Jumlahnya ( 1990); Cahaya Maha Cahaya (1991); Sesobek Buku Harian Indonesia (1993); Abacadabra (1994); dan Syair Amaul Husna (1994) Selain itu, juga telah menerbitkan 30-an buku esai, di antaranya: Dari Pojok Sejarah (1985); Sastra Yang Membebaskan (1985); Secangkir Kopi Jon Pakir (1990); Markesot Bertutur (1993); Markesot Bertutur Lagi (1994); Opini Plesetan (1996); Gerakan Punakawan (1994); Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996); Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994); Slilit Sang Kiai (1991); Sudrun Gugat (1994); Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1995); Bola- Bola Kultural (1996); Budaya Tanding (1995); Titik Nadir Demokrasi (1995); Tuhanpun Berpuasa (1996); Demokrasi Tolol Versi Saridin (1997); Kita Pilih Barokah atau Azab Allah (1997); Iblis Nusantara Dajjal Dunia (1997); 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998); Mati Ketawa Cara Refotnasi (1998); Kiai Kocar Kacir (1998); Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan (1998); Keranjang Sampah (1998); Ikrar Husnul Khatimah (1999); Jogja Indonesia Pulang Pergi (2000); Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000); Menelusuri Titik Keimanan (2001); Hikmah Puasa 1 & 2 (2001); Segitiga Cinta (2001); "Kitab Ketentraman" (2001); "Trilogi Kumpulan Puisi" (2001); "Tahajjud Cinta" (2003); "Ensiklopedia Pemikiran Cak Nun" (2003); Folklore Madura (2005); Puasa ya Puasa (2005); Kerajaan Indonesia (2006, kumpulan wawancara); Kafir Liberal (2006); dan, Jalan Sunyi EMHA (Ian L. Betts, Juni 2006).

Pluralisme Cak Nun bersama Grup Musik Kiai Kanjeng dengan balutan busana serba putih, ber-shalawat (bernyanyi) dengan gaya gospel yang kuat dengan iringan musik gamelan kontemporer di hadapan jemaah yang berkumpul di sekitar panggung Masjid Cut Meutia.

Setelah salat tarawih terdiam, lalu sayup-sayup terdengar intro lagu Malam Kudus. Kemudian terdengar syair, "Sholatullah salamullah/ 'Ala thoha Rasulillah/ Sholatullah salamullah/ Sholatullah salamullah/ 'Ala yaasin Habibillah/ 'Ala yaasin Habibillah..." Tepuk tangan dan teriakan penonton pun membahana setelah shalawat itu selesai dilantunkan.

"Tidak ada lagu Kristen, tidak ada lagu Islam. Saya bukan bernyanyi, saya ber-shalawat," ujarnya menjawab pertanyaan yang ada di benak jemaah masjid.

Tampaknya Cak Nun berupaya merombak cara pikir masyarakat mengenai pemahaman agama. Bukan hanya pada Pagelaran Al Quran dan Merah Putih Cinta Negeriku di Masjid Cut Meutia, Jakarta saat itu, ia juga melakukan hal-hal yang kontroversial.

Dalam berbagai komunitas yang dibentuknya, oase pemikiran muncul, menyegarkan hati dan pikiran. Perihal pluralisme, sering muncul dalam diskusi Cak Nun bersama komunitasnya. "Ada apa dengan pluralisme?" katanya.

Menurut dia, sejak zaman kerajaan Majapahit tidak pernah ada masalah dengan pluralisme. "Sejak zaman nenek moyang, bangsa ini sudah plural dan bisa hidup rukun. Mungkin sekarang ada intervensi dari negara luar," ujar Emha.

Dia dengan tegas menyatakan mendukung pluralisme. Menurutnya, pluralisme bukan menganggap semua agama itu sama. Islam beda dengan Kristen, dengan Buddha, dengan Katolik, dengan Hindu.

"Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua," tutur budayawan intelektual itu.
(Puslitbang Sindo//kem)
PC IMM BANGKALAN

Jamaah Ansharut Tauhid Tuntut Eksekusi Amrozi Cs Dibatalkan


Lamongan
- Usai menentang pelaksanaan eksekusi terhadap Amrozi Cs, puluhan jamaah Ansharut Tauhid, Ngruki, Solo melakukan orasi mendesak dibatalkannya eksekusi terhadap terpidana mati Bom Bali I.

Orasi itu dilakukan di depan Pondok Pesantren Al Islam, Desa Tenggulun, Solokuro, Lamongan, Selasa (4/11/2008). Dalam orasinya para aktifis berulang kali meneriakkan kata-kata jihad.

Jihad tersebut mereka tujukan kepada Amerika, karena negara adi kuasa itu sudah mengajak perang yang oleh para aktivis disebutnya sebagai perang salib.

"Kita harus melawan dengan sikap Babi Bush tersebut," ujar orator yang disambut dengan teriakan Allahu Akbar para jamaah lainnya.

Jamaah Ansharut Tauhid itu mengenakan pakaian hitam dan sebagian menutup wajahnya sehingga hanya terlihat matanya saja. Selain itu, mereka juga membawa bendera dengan tulisan Allahu Akbar berwarna hitam.

Tak ketinggalan, para jamaah ini juga menyerukan kepada seluruh warga Tenggulun untuk mendesak pemerintah agar membatalkan eksekusi dan segera melepas Amrozi cs.(bdh/bdh)
PC IMM BANGKALAN

Lingkaran Survei Perkirakan KaJi Menang Tipis

Surabaya - Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dan Jaringan Isu Publik (JIP) tidak berani mengklaim siapa pemenang pada pilgub putaran kedua Jatim.

Meski hasil quick count yang mereka lakukan di 400 TPS seluruh Jatim dimenangkan pasangan KaJi. Pasalnya, hasil quick qount yang mereka lakukan perbedaan antara KaJi dan KarSa sangat tipis di bawah angka 2 persen.

"Kami tidak berani mengklaim kemenangan KaJi. Karena perbedaannya sangat tipis," kata Direktur LSI Eka Kusmayadi kepada wartawan dalam jumpa pers di ruang Bali Room Hotel JW Marriot Jalan Embong Malang, Selasa (4/11/2008).
Menurut Eka, posisi keduanya bisa saja berubah. Bisa saja, kata Eka, pasangan KarSa yang menang atau bisa saja KaJi yang menang. Alasan utama, jelas pria berkacamata ini tidak mengklaim siapa pemenang pilgub Jatim putaran kedua dikarenakan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Pihaknya berharap, KPU atau saksi serta pihak keamanan untuk mengawal hasil surat suara dari TPS hingga KPUD. Hal ini menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Dari hasil quick count yang mereka lakukan di 400 TPS di seluruh Jatim, KaJi meraup 50,76 persen dan KarSa meraih 49,24 persen. KarSa menang di beberapa daerah seperti Madura sebanyak 50% dan KaJi sebanyak 47,50%. Untuk wilayah Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi pasangan KaJi yang menang dengan meraih suara 56,21% dan KarSa mendapat suara 43,79%.

Untuk Surabaya dan Sidoarjo, hasil LSI menunjukkan pasangan KaJi meraup 52,43% dan KarSa sebanyak 47,57%.(fat/fat) sumber detik.com
PC IMM BANGKALAN

Wajah Obama Nyusup di Coblosan PILGUB Jatim


lLA BADHA BEIH
PC IMM BANGKALAN

Surat Wasiat Amrozi Cs di publikasikan

Surat wasisat itu di publikasikan di situs http://foznawarabbilkakbah.com/, namun belum ada kepastian kebenarannya.

berkut tampilan situs tersebut:

PC IMM BANGKALAN

Chairil Anwar : PTM Terpercaya Karena Kualitas Dosen


Yogyakarta – Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Dr. Chairil Anwar menyatakan bahwa saat ini Perguruan Tinggi Muhammadiyah banyak yang memasuki tahap perkembangan ketiga, dimana kualitas sumber daya manusia menjadi hal yang utama karena akan membangun sistem yang kuat. ”Selain itu, sebagai sebuah layanan jasa, kepercayaan masyarakat menjadi yang utama dan itu tergantung dari kualitas dosennya” terangnya dalam acara Sosialisasi Beasiswa Dikti Studi Lanjut Luar Negeri di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta (31/10/2008).

Menurut Chairil tahap perkembangan sebuah PTM yang pertama adalah pembangunan institusi, yang kedua adalah konsolidasi dan yang ketiga adalah pembangunan sistem. Menurutnya PTM –PTM bahkan ada yang sudah melampai tahapan ketiga ini, seperti banyak yang sudah menyelenggarakan program S2. ”Ini dahulu tidak terbayangkan, ada PTM yang bisa menyelenggarakan S2, sekarang sudah ada 20 an PTM yang membuka program S2, bahkan ada yang S3” terangnya. ”Bahkan PTM sekarang sudah bisa melahirkan guru besarnya sendiri” lanjutnya.

Chairil mengatakan bahwa perkembangan ini juga tidak terlepas dari kebijakan pemerintah yang menyatakan bahwa Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta adalah mitra yang sama. Sehingga banyak kesempatan tenaga pengajar di PTM yang bisa meraih beasiswa dari Ditjen Dikti Depdiknas RI untuk studi lanjut keluar negeri. Disamping itu, Majelis Diktilitbang juga berkomitmen untuk berbagi informasi beasiswa-beasiswa yang mungkin diakses oleh dosen-dosen PTM. Beberapa waktu lalu bersama Ketua Umum PP Muh, Prof. Din Syamsuddin majelis Diktilitbang mengadakan resepsi khusus pelepasan dosen-dosen PTM yang akan berangkat studi lanjut ke luar negeri sebanyak 46 dosen. (arif)

PC IMM BANGKALAN

Harga Mati IRM Jatim gagal, IRM Resmi Menjadi IPM, Deny WK Ketua Umum Terpilih



Surakarta – Ketukan Palu Sidang Pleno terakhir Muktamar Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) Selasa (28/10/2008) secara resmi menetapkan perubahan nama Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) menjadi Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Ketukan Palu Hadisra, Presidium Sidang dari Sulawesi Selatan, dalam sidang pleno yang berlangsung di Aula Asrama Haji Donohudan ini juga menetapkan Deny Wahyudi Kurniawan sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat IPM dengan Sekretaris Jendral Andy R. Wijaya.

Proses pemilihan yang sempat memundurkan rangkaian acara ini didahului dengan terpilihnya sembilan formatur yang terdiri dari Andy R. Wijaya dengan 331 suara, Deny Wahyudi Kurniawan dengan 303 suara, Diyah Puspitarini dengan 282 suara, Machendra Setyo Atmojo dengan 262 suara, Nurjannah Seliani Sandiah dengan 225 suara, Virgo Sulianto Gohardi dengan 222 suara, Eka Damayanti dengan 211 suara, Aris Iskandar dengan 197 suara dan Zulfikar Ahmad dengan 188 suara. Menurut ketua Panitia Pemilihan, Masmulyadi, kepada muhammadiyah.or.id, sembilan formatur itu dipilih dari hasil putaran pertama sebanyak 27 kandidat, yang sebelumnya disaring dari 38 kandidat.

Penentuan Ketua Umum dan Sekretaris Jendral yang ditentukan oleh sidang tim formatur berlangsung lancar dan cukup singkat. Pukul 18: 15 WIB acara prosesi penutupan Muktamar oleh Ketua PP Muhammadiyah Dr. Haedar Nashir bisa dilakukan. Resmi mulai tanggal 28 Oktober 2008 ini IRM berubah menjadi IPM. Panggilan kaderpun resmi berubah menjadi Ipmawan dan Ipmawati. “IPM Berjaya !! “ demikian akhir pekik kader-kader IPM se Indonesia di akhir mars yang dinyanyikan petang itu. (Arif)

PC IMM BANGKALAN

Mati Jihad Apa Mati Sia-Sia???

PC IMM BANGKALAN

Darul Arqom Dasar Komisariat Al-Khawarizm Fakultas Teknik UNINIYO

DARUL ARQOM DASAR
KOMISARIAT AL-KHAWARIZM
Fakultas Teknik Unijoyo

Diberitahukan pada segenap kader IMM Cabang Bangkalan, Komisariat Al-Khawarizm akan mengadakan Darul Arqom Dasar Pada Tanggal 07 Nopember 2008, bertempat di BKPM Aisyiyah Socah. Kontribusi Peserta Rp. 15.000,-. Bagi segenap kader yang belum mengikuti Darul Arqom Dasar di harap segera mendaftarkan diri mengingat kuota peserta terbatas, hanya 40 orang. Pendaftaran di sekretariat PC. IMM Kabupaten Bangkalan Perum. Telang indah N0. 28 A Telang-Bangkalan.

ttd. Komisariat Al-khawarizm
Contac Person:
  • FE : Firman 085257062506/087866151636
  • FISIB : Aan 085746037398
  • FP : Ilmi 085730520161
  • FH : Maarif 085730410682
  • FT : Tufik 03177501480/085648901828

PC IMM BANGKALAN

PELANTIKAN BERSAMA DAN BEDAH BUKU


Buruan daftar tempat terbatas, CP: 085730410682/085232139169
PC IMM BANGKALAN

MUSLIMAH IDEAL

Resume dari kajian Immawati kemarin:
MUSLIMAH IDEAL
Peran muslimah dalam kehidupannya memiliki banyak peran diantaranya :
1. Muslimah sebagai istri
Istri sebagai sumber inspirasi suami, penyokong, dan pendukung. Rasulullah selalu baik dan menjalin hubungan silaturahim dengan kerabat dan sahabat mendiang Khadijah, walaupun istrinya itu telah tiada. Hal itu membuat Aisyah cemburu dan bertanya pada suaminya, ”Bukankah Allah telah memberi pengganti yang lebih baik?” tidak ada yang bisa menggantikan Khadijah untukku. Dia memberikan pembelaanya ketika semua orang memusuhiku, ia menguatkanku ketika aku berputus asa atas kaumku, ia memberikan hartanya untuk dakwah yang aku bawa dan dari rahimnya Allah memberiku keturunan tidak ada yang bisa mengantikannya di sisiku”.
Kisah Ummu Salamah ketka menjadi istri Abu Thalhah yang merawat dengan ketekunan suaminya sepulang perang dan ketika Ummu Salamah menjadi istri Rasulullah paska perjanjian Udaibiah. Istri sebagai sumber energi bagi suami begitu juga sebaliknya. ”Sebaik-baik istri adalah jika kamu pandai menyejukkan hatinya”. Apakah wanita yang menyejukkan hati seorang suami adalah istri yang berkulit putih dan berbibir merah? Pernikahan agung putri Rasulullah menjadi teladan dalam pernikahan pasangan muslim adalah wanita yang diriwayatkan melepuh tangannya karena menggiling gandum dan tentang Fatimah yang suaminya berkomentar singkat, jika aku memandangnya bilanglah kesusahan dan kesedihanku. Jadi menjadi sebaik-baik wanita bukanlah yang tercantik! Tapi ikatan yang penuh sakinah lahir dari kejernihan ruhiah tiap anggotanya(Qs.An-nur:26)
2. Muslimah sebagai angggota masyarakat
Bukan termasuk dalam golonganku yang tidak perduli dengan umatku. Jelaslah hadits tersebut mencerminkan pribadi yang dikehendaki oleh islam bukanlah pribadi yang dingin tidak merasa sesak atas permasalahan umat. Pernahkah kita berfikir bagaimana mengentaskan pelacuran, mengakhiri korupsi, anak jalanan, pengemis, kemiskinan dan lain-lain. Semua itu membangkitkan sensifitas sosial contoh dalam siroh dari muslimah adalah kepedulian.
3. Muslimah sebagai individu
Sebaik-baik muslimah adalah yang paling baik akhlak dan keimanannya. Imam tabrani meriwayatkan dari Anas Bin Malik, Rasulullah bersabda: ”Barangsiapa menikahi wanita karena kehormatannya (jabatannya) maka Allah akan menambahkan kepadanya kehinaan. ”Barangsiapa yang menikahi wanita karena nasab kemuliaanya maka Allah akan menambahkan kerendahan”. Tetapi nikahilah wanita itu karena agamanya. Sesungguhnya budak wanita yang hitam dan cacat, tetapi taat beragama adalah lebih baik (daripada wanita yang kaya cantik tapi tidak beragama)”.
4. Muslimah sebagai seorang ibu
”Tempatkanlah.........pada tempat yang baik karena watak orang tua akan berpengaruh pada anak-anak yang dilahirkan” menjadikan pedoman bagi laki-laki untuk menjadikan parameter keimanan dan akhlak dalam memilih pasangan.


”Apabila para wanitanya baik maka baiklah negeri tersebut, apabila buruk para wanitanya maka buruklah negeri itu”. Baik buruk sebuah negeri maka lihatlah para wanitanya. Para ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya peletak batu bata pertama yang menjadi dasar kepribadiannya. Maka bisa dibayangkan bagaimana generasi kaum muslimin jika para ibu dari anak-anak hari ini adalah yang seperti asma’, ibu-ibu seperti Fatimah...
Ingatlah pelatihan yang menyuruh untuk memegang dahi tapi yang dilakukan adalah memegang kening maka yang dilakukan......memberikan pertanda ....maka jadilah ibu yang baik! Untuk menjawab sebagian dari permasalah umat ini jadilah jawaban bukan jadi bagian dari masalah.
Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik dalam bergaul dalam keluarganya (paling baik pada istrinya)
Yang dimintai pertanggungjawaban bukan hanya ibu tapi orang tua yang termasuk didalamnya ayah dan ibu.


”Amaliyah Istisyahadiyah”
PC IMM BANGKALAN

Islam Kebangsaan KeNegaraan dan Islam Khilafah

Tsaqofah Islamiyah

Krisis Ideologi KeNegaraan

Islam Kebangsaan KeNegaraan dan Islam Khilafah

Hanafi Sukoco

(Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Bangkalan)

Ideologi merupakan sistem paham yang digunakan untuk landasan gerak suatu kelompok atau organisasi (Haedar Nashir,Meneguhkan Ideologi Gerakan Muhmmadiyah, 2007 : vii). Dalam hal ini yang kita bicarakan adalah tentang Ideologi Kenegaraan kita.

Berbagai masalah yang terjadi di negara Indonesia mulai dari masalah ekonomi, sosial, hukum, budaya, politik, pertahanan dan keamanan. Sebagai pelajar yang kritis dan tanggap akan kondisi kenegaraan kita, tentunya kita tahu bagaiman kondisi bangsa kita? Tambah baikkah, tau tambah Burukkah ?Mari kita mengerucut menyoroti tentang hukum di Indonesia, apakah sudah adilkah undang-undang dan sistem peradilan di Indonesia ? Tentu tidak..Bagaimana mungkin iya ? Lihat saja banyak yang salah menjadi benar dan yang salah pun begitu, banyak maling kelas gurem dikenai sangsi hukum yang lebih berat bahkan sangat berat dari pada yang memakan uang rakyat (koruptor) jutaan hingga triliunan rupiah ? Bagaimana hukum dan perundangan-undangan di Indonesia tentang masalah tatanan sosial kemasyrakatan, apakah sudah ada perundang-undangan yang jelas ?

Ideologi kenegaraan merupakan Sistem atau paham yang digunakan sebagai landasan gerak dan aturan main dalam suatu negara. Sistem Demokrasi telah diterapkan di Indonesia dan sistem-sistem yang lain, begitu pula di Negara yang lain diterapkan sistem yang sedemikian itu. Apakah sistem-sistem itu suadah bisa memecahkan suatu permasalahan yang komplek? Apakah suatu sistem atau Ideologi tidak bisa diubah? Ataukah takut untuk mengubahnya? Bagaimana dengan Sistem Ideologi Islam ?

Secara fungsional Islam, terutama sekali dapat diidentifikasi berdasarkan tempat asal usulnya; yakni merupakan teologi revolusioner dan sistematis serta gerakan yang secara seimbang diarahkan untuk menentang kebobrokan-kebobrokan sifat manusia seperti kebejatan akhlak, materialisme, tiran-tiran politik, perbudakan, kepitalisme, kolonialisme, eklesiatikal (kependetaan). Islam kini berada pada posisi yang hampir sama seperti pada masa awalnya, ketika ia menghadapi kebejatan akhlak bangsa Arab, Romawi dan Persia. Tetapi penekanan utama dari sistem islam adalah pengakuan akan kedaulatan tuhan sebagai penguasa mutlak bagi seluruh ummat manusia.

Khilafah bukanlah suatu negara Kebangsaan, akan tetapi ia merupakan system kenegaraan yang memiliki dasar Al-Qur'an dan Assunah Rasul, yang mempunyai tujuan yang jelas.

Mungkin dapat dikatakan bahwa negara islam sebagai negara yang utopis, karena dunia sekarang merasa asing, bahkan tak mengenal apa itu ciri dan sifat Negara Islam.

Ciri-ciri negara Islam:

Dengan memperhatikan perjalanan panjang yang telah ditempuh oleh negara – negara dengan ideologinya masing-masing, mulai dari sosialis, liberalis, sekularis, sampai demokratis. Bagaimana perjalanannya apakah telah sukses mengatur kehidupan kenegaraan, kerakyatan dan khususnya mengatur kehidupan Ummat Manusia, ataukah bahkan merusak tatanan sosial kemasyarakatan. Maka kini dunia hanya punya alternatif untuk menengok kepada Islam. Islam pernah mengibarkan panji kejayaan selama kurang lebih tujuh abad dan mewariskan peradaban dan ilmu pengetahuan kepada dunia sampai sekarang. Hal ini disebabkan Islam mendirikan negara berdasar wahyu yang terlepas dari dari ide dasar kebangsaan, ikatan dinasti, suku, ikatan darah, ikatan kelas dan kepentingan duniawi lainnya. Islam menegakkan negara berdasar prinsip Tauhid dan bertujuan membawa ummat manusia kepada tata nilai akhlak yang mulia. Dalam upaya mendirikan negara pertama kali di Madina ( yang sebelumnya bernama Yatsrib), Islam mengajak mengimani prinsip-prinsipnya, baik dalam masalah aqidah maupun muamalah, ibadah maupun hukum2 kenegaraan. Dengan keimanan kepada prinsip Islam dan kerelaan beribadah kepada ALLAH semata, maka islam mendirikan negara terlepas dari kepentingan golongan, bangsa ataupun doktrin kelompok dan pemimpin tertentu.

Tentu saja dengan corak dan prinsip yang masih asing bagi dunia dan telah diasingkan oleh kelompok non- Islam maka negara seperti ini masih dianggap utopis.untuk itu pada masa ini anda dapat menyaksikan kaum non-Islam bahkan ummat Islam sendiri tidak mengenal ciri khas proses perjuangan yang ditempuh Islam dalam mendirikan negara Islam. Maka orang2 Islam yang lahir dan dibesarkan dalam keluarga muslim tapi sehari-harinya hidup dalam pola pendidikan dan kebudayaan barat, terbentuk oleh teori2 sosial dan politik Barat, tidak bisa menerima apa yang disebut dengan negara Islam. Sesudah orang2 Islam yang hidup dalam lingkungan kebudayaan barat tersebut memperoleh kemerdekaan dari penjajah Barat, meskipun rakyat beragama Islam, namun dalam membentuk negaranya berdasar paham kebangsaan.

Bukan Islam kebangsaan atau Kenegaraan yang kita ingin terapkan Tetapi Islam khilfahlah solusinya, karena dalam negara yang berdasarkan kebangsaan dan sistem demokrasi, jika ummat Islamnya mayoritas, tidak secara otomatis aspirasi politik islami mereka tersalurkan dengan baik. Sebab cara2 perjuangan yang didasarkan kebangsaan dengan sistem politik demokrasinya, sama sekali tidak tepat untuk menyalurkan aspurasi politik ummat Islam. Contoh bagaimana sulitnya ummat Islam memperjuangkan RUU pendidikan, bagaimana sangat sulitnya tututan ummat Islam untuk memperjuangka RUU pornografi dan pornoaksi, bagaimana sulitnya tuntutan ummat Islam kepada pemerintah untuk membubarkan Ahmadiyah (Aliran Sesat dalam Islam) dll.Inilah gaya dan cara yang dilakukan negara2 kebangsaan di seluruh dunia, dengan tujuan memelihara ciri kebangsaannya dan menghilangkan unsur ketuhanan (khusunya Islam) dari sistem kenegaraan, dan itu bisa dikatan sebagai upaya mengembangkan sekularisme.

Ciri lain negara Islam adalah didirikan berdasarkan prinsip Tauhid, bahwa kekuasaan adalah milik ALLAH semata. Atas dasar ini, maka Islam menetapkan bahwa seluruh bumi milik ALLAH. ALLAH-lah yang memelihara dan mengedalikan segala urusan-Nya. Karena itu masalah pemerintahan, perundang-undangan dan hukum untuk mengatur tata kehidupan ummat hanya menjadi wewenang ALLAH. Tidak ada seorangpun yang berhak dan berwenang membuat undang2 dan hukum bagi dirinya sendiri.

Manusia hanya sebagai pelaksana apa yang telah diamanatkan ALLAH kepadanya. Kedudukannya sebagai khalifah hanya dianggap sah bila memenuhi dua kriteria yaitu :

1. Diangkat sebagai Rasul ALLAH, atau

2. Mengikuti sepenuhnya ajaran Rasul dan setia kepada undang2 yang ditetapkan ALLAH.

Seseorang yangditunjuk orang2 beriman dan taat kepada undang2 ALLAH, berkedudukan sebagai wakil ummat atau Khalifah. Kedudukannya sebagai khalifah, disebabkan persetujuan ummat terhadapnya.

Negara yang berdasarkan prinsip Islam, 100% berbeda dengan negara2 non-Islam, baik bentuknya, dasarnya maupun sifatnya. Bentuk, dasar dan sifat negara yang berdasarkan Islam mengacu pada Wahyu, sehingga melahirkan akhlak dan perilaku yang khusus. Untuk itu seluruh perangkat yang dibutuhkan negara Islam, baik tentara, polisi, hakim, pegawai pajak, administrator, politik luar negeri, undang2 perang dan damai, seluruhya bebrbeda dengan negara non-Islam.

Semua itu ada dalam Alqur'an, barang siapa yang tidak percaya akan Sistem Pemerintahan Islam yang ciri2nya dan yang sudah ada di Alqur'an, maka pantaskah kita mengaku aku Islam ? Karena aku sudah menyekutukan ALLAH dengan lebih mengangungkan sistem atau aturan buatan manusia yang penuh dengan salah dan dosa. Bagaimana statusku ?

Bangkalan 17 Juni 2008

Sumber Bacaan :1.Alqur'an 2.Tatanan Sosial Islam Studi berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah oleh Prof. Dr. Abdurrahman Abdulkadir Kurdi. 3. Majalah Almuslimun edisi 383 pebruari 2002.4. Meneguhkan Ideologi Gerakan Muhmmadiyah oleh Haedar Nashir)

PC IMM BANGKALAN

INDONESIA BISA ?........

Saiful R A*

“INDONESIA BISA”, mungkin kata-kata ini yang akhir-akhir ini kita dengar di media elektronik, kata-kata itu adalah perwujudan dari semangat bangsa Indonesia dalam memperingati satu abad kebangkitan nasional, tetapi apakah dibenak hati anda tidak terlintas pertanyan “bisa?, Indonesia bisa apa?” pertanyaan besar dan mungkin adalah pekerjaan rumah bagi kita di tengah kondisi bangsa Indonesia yang sangat memprihatinkan.

Lantas kalau sekarang kita mengatakan Indonesia bisa, berarti sebelumnya Indonesia tidak bisa berbuat apa-apa untuk dirinya sendiri. Sebenarnya kata-kata itu telah di kumandangkan oleh presiden pertama kita Ir. Soekarno dalam pidatonya, beliau selalu mengatakan Indonesia harus bisa mandiri karena beliau sangat yakin jika kita mempunyai banyak hutang berarti kita tidak akan bisa berkembang dan maju, ternyata benar sekali pemikiran dari bung karno, kita dapat melihat realita sat ini, kita selaku bangsa yang merdeka seharusnya menjadi bangsa yang mandiri, tapi kenyataannya kita tidak bisa berbuat apa-apa dikarenakan hutang kita yang sudah terlalu banyak, saking banyaknya sampai-sampai kita tidak bisa membayar bunga dari pajak tersebut, mengapa bisa terjadi demikian?

Sepertinya hanya kita sebagai rakyat Indonesia sendiri yang bisa menjawab semua pertanyaan itu! Kita tidak mempuinyai kedudukan yang tinggi dan disegani oleh dunia barat, karena kita tidak dapat menjadi negara yang mandiri, negara yang dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Jika kita mau melangkah harus dan mungkin wajib untuk meminjam (hutang) ke negara besar (ambil contoh Amerika), walaupun dalam perjanjiannya banyak menguntungkan pemberi pinjaman dan merugikan kita.

Permasalahannya, Indonesia saat ini berada di ambang pintu kehilangan jati diri, karena sekarang Indonesia sudah tidak mempunyai martabat dan dipandang sebelah mata oleh negara asing, itu dikarenakan sikap pemerintah Indonesia yang mau tunduk saja kepada kepentingan asing, mau dijadikan boneka, jadi antek-antek asing untuk menyengsarakan rakyat.

Sekarang apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi dan menghilangkan penyakit bangsa itu?. Sebenarnya solusi untuk masalah seperti itu telah dikatakan dan dikumandangkan oleh Ir. Soekarno bahwa kita harus menjadi bangsa yang mandiri, kita mesti bisa meng-ekspor jangan bisanya cuma meng-impor barang, jati diri kita sebagai bangsa Indonesia yaitu bangsa yang merdeka harus dikuatkan dan dipertegas. Kita jangan cuma bisa meminjam kita harus bisa meminjamkan uang kita ke negara yang membutuhkan. Jadi, seiring dengan menjadi negara yang mandiri, negara-negara lain yang semula melihat kita sebelah mata pasti akan memandang kita, dan martabat kita sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat pasti akan diakuinya. Itulah serbenarnya hakekat dari INDONESIA BISA, BISA mensejahterakan rakyatnya, BISA memenuhi kebutuhan sendiri tanpa harus pinjam/hutang, BISA berkembang dan bergerak maju tanpa ada tekanan dari pihak asing dan yang terpenting BISA merdeka dengan makna merdeka yang sesungguhnya, yaitu tanpa ada penjajahan fisik ataupun penjajahan dalam bentuk apapun.

* Sekbid Hikmah PC. IMM Kabupaten Bangkalan



PC IMM BANGKALAN

MENUJU BANGSA BERMARTABAT

By: Miftahul Ulum*

Wacana menuju bangsa bermartabat bukanlah hal yang baru dalam percaturan bangsa ini dan selalu mendapatkan ruang untuk dibahas, yang membahaspun multilevel kalangan. Mulai dari kalangan orang yang biasa- biasa saja, orang biasa, orang yang kebiasaan, intelektual khusus, sampai pemerintah sendiri.
Pada tanggal 25 Januari 2008, Susilo Bambang Yudhoyono dalam kapasitasnya sebagai presiden Republik Indonesia menyampaikan pidato yang berjudul “Menuju Bangsa Indonesia Mandiri dan Bermartabat di Tengah Tuntutan Globalisasi” pada acara ulang tahun CIDES (Center for Information and Development Studies). Dalam pidatonya itu, SBY menyebutkan sepuluh kriteria untuk menjadi bangsa yang bermartabat/ terhormat. Pertama, bangsa yang bermartabat dapat diukur dari taraf hidup yang layak, bebas dari kemiskinan yang ekstrim. Kedua, dilihat dari kehidupan yang aman dan tertib, jauh dari kejahatan dan gangguan keamanan. Ketiga, apabila demokrasi dan kebebasan belum ada, terpasung tidak bisa mengekspresikan pikiran-pikiran kita, tentu kita belum bisa menjadi bangsa yang terhormat. Keempat, ekonomi yang sustainable dan tidak terjerat oleh hutang yang tinggi, yang di luar kemampuan bangsa itu, termasuk generasi berikutnya untuk melunasinya. Kelima, bisa juga diukur martabat dan kehormatan ini adalah pemerintah yang baik, good governance, celean government, terbebas dari korupsi yang kronis. Keenam, pemeliharaan lingkungan yang baik untuk kepentingan bangsa di masa depan, untuk planet kita, bumi kita juga menjadi ukuran kehormatan sebuah bangsa. Ketujuh, pendididikan yang maju, termasuk penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Makin cerdas bangsa itu, makin maju teknologinya, makin terhormat di mata bangsa- bangsa yang lain. Kedelepan, kesehatan yang layak. Kesembilan, ini saya kira Saudara boleh setuju atau tidak, tapi saya ingin negara kita maju dibidang olah raga memiliki citra, image yang baik secara internasional. Kesepuluh, kita mesti memiliki peran internasional yang baik, yang aktif, yang diakui, yang konstruktif, baik di tingkat perserikatan bangsa- bangsa maupun ketika kita berperan di banyak persoalan di seluruh dunia (www.cidesonline.org, 2008).
Secara teoritis, sepuluh sektor yang digagas SBY itu, menurut hemat penulis sudah cukup untuk sekedar merepresentasikan sebuah bangsa ideal sehingga pantas menyandang predikat bermartabat. Namun demikian, hal itu juga membuktikan bahwa bangsa Indonesia sekarang, nanti, dan seterusnya tidak hanya membutuhkan konsep teoritis-retoris, melainkan sebuah kerja nyata berdasarkan keberanian hati nurani. Berani untuk tidak melindungi pejabat atau orang “besar” yang salah, berani untuk tidak melindungi oknum yang telah jelas- jelas menggerogoti negara dalam arti luas, berani untuk tidak menjadi bangsa yang bermental inlander, serta berani untuk menempuh jalan terjal menuju kehormatan bangsa itu sendiri. Jika saja setiap elemen bangsa ini mempunyai komitmen kolektif untuk melihat persoalan- persoalan krusial-aktual kebangsaan, maka sudah pasti akan menadapati bangsa tercinta ini sedang berada dalam ambang kenistaan, bukan dalam koridor kehormatan!
Sebagai salah satu bukti bahwa bangsa ini sedang berada dalam koridor kenistaan adalah data pemerintah sendiri yang menyatakan bahwa 16,58 persen atau sekitar 37,2 juta orang Indonesia hidup dalam garis kemiskinan. Bahkan, menurut perkiraan Pusat Penelitian Ekonomi LIPI angka kemiskinan itu masih akan membengkak menjadi 21,92 persen atau sekitar 41,7 juta orang pasca kenaikan harga BBM (Jawa Pos, 17- 06- 2008). Selintas, kebijakan pemerintah ini justru tidak sesuai dengan konsep ideal yang digagas sendiri, yaitu untuk menyetarakan taraf hidup yang layak agar bebas dari kemiskinan. Apalagi, fenomena kenaikan harga BBM ini justru merembes pada ranah kenyamanan kehidupan bersama akibat aksi penolakan mahasiswa di berbagai wilayah yang tak jarang berujung bentrokan dengan aparat, penutupan jalan umum, dan lain sebagainya. Itu pun, hanya di satu sector saja. Belum lagi, di sektor lain yang tak kalah ironisnya.
Dalam sektor keamanan dan pertahanan, Indonesia masih belum mampu menunjukkan kapabilatasnya sebagai bangsa yang bermartabat. Terlalu banyak kasus yang tak tertangani dengan baik. Dengan sangat terpaksa, kita harus rela mempersembahkan ambalat kepada Malaysia. Setiap hari, sekian ton ikan di perairan Indonesia menjadi makanan empuk kapal penjarah asing. Dalam sektor kemandirian ekonomi, kita bisa sedikit berbangga karena ketergantungan kepada IMF akan segera berakhir. Tetapi, kekalahan dan ketergantungan kita pada korporat asing tampaknya masih tetap menjadi fenomena yang semakin menjatuhkan martabat bangsa ini. Dan masih banyak lagi seabrek problema bangsa yang menuntut karya nyata, bukan hanya teoritis-retoris.
Oleh karena itu, penulis menjadi tidak tertarik lagi untuk mengulas secara rigid-teoritis problem- problem itu. Mengapa? Selain karena problemnya terlalu komleks dan sudah banyak elemen bangsa yang membahasnya, sejatinya yang paling subatansial adalah aksi dan kerja nyata. Dengan demikian, dari pada hanya sibuk membahasnya ansich, lebih baik kita mulai menyumbangkan karya nyata yang lebih substansial sesuai dengan kapasitas kita masing- masing demi bangsa Indonesia yang lebih bernartabat.

*Kabid keilmuan Komisariat Al-khawarizmi FT Unijoyo














PC IMM BANGKALAN

Aksi Menolak Kenaikan BBM

Naiknya BBM merupakan Senjat pemusnah Masal yang akan meruntuhkan seluruh sendi-dendi perekonomian negara saat seluruh penduduk indonesia tidak lagi sanggup hidup layak, dan entah dengan dasar ap pemerintah Republik ini tetap bersikukuh untuk menaikan harga BBM dengan dalih untuk menjaga APBN, apa arinya APBN saat ribuan mayat siap meloncat kedalam liang kubur.
Tergerak dengan semakin terbelenggunya nasib rakyat PC. IMM Bangkalan beserta beberapa elemen masyarakat di Kabupaten Bangkalan melakukan aksi, yang diharapa dapat segera menyadarakan pemerintah atas ketidak berpihakannya pada rakyat. Serta memberikan pengertian pada masyarakat agar tidak berdiam diri dijajah bangsa sendiri.
PC IMM BANGKALAN

Apa Yang Terjadi Ketika Pembangunan Ekonomi Madura Pasca Suramadu ?

Pembangunan ekonomi tidak terlepas dari campur tangan Investor Global (pihak yang bermodal besar) yang nantinya akan mengarah pada kapitalisme global.
Tentu tidak asing lagi bagi kita tentang eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya alam yang ada di daerah yang menjadi objek pembangunan ekonomi, dan wacana ini hanya untuk pemikiran dangkal saja tanpa memperhatikan waktu jangka panjang dan dampak yang akan dialami oleh daerah yang bersangkutan.
Contoh : ketika pembangunan Pulau Batam yang dimana para Investor asing masuk, tenaga dari luar daerah masuk pula sehingga masyrakat asli Batam terpinggirkan karena SDMnya masih rendah, Budaya-budaya asing yang tidak sesuai tidak lagi ada filter yang dapat merusak budaya aslinya. Begitu juga tentang Eksploitasi Minyak di Cepu oleh Ecson Mobile, dan juga Investor Lokal di Porong Sidoarjo yang tidak bertanggung jawab.
Belum lagi Eksploitasi Tambang Emas di Papua.
Mari kita lihat apakah itu semua bisa mensejahterahkan Masyarakat Daerah Yang dijadikan objek pembangunan ekonomi? Jawabannya tidak,! Masyarakat hanya dijadikan alat sementara untuk mencapai tujuan pembangunan ekonomi para pejabat yang penjahat dan menyerahkan eksploitasi SDA kepada Investor Asing atau local tanpa memperhatikan masyarakat local yang daerahnya menjadi proyek pembangunan ekonomi. Tetapi hanya ada kata pembangunan ekonomi saja, tapi untuk siapa?
Untuk rakyat kah atau para pejabat dan para pemodal besar?, dan tentu bukan untuk rakyat. Buktinya saja rakya banyak yang melakukan aksi menuntut hak dan kewajiban mereka serta menuntut keadilan.
Sekarang bagaimana dengan Pembangunan Ekonomi Madura pasca pembangunan Suramadu ?. Mari seluruh elemen masyarakat Madura untuk berfikir dan bersikap kritis jangan sampai kita tertipu dengan Slogan “ Suramadu Menuju Grand Design Pembangunan Ekonomi Madura, karena sudah banyak Daerah yang tertipu dan dirugikan.
Meninjau lagi tentang kebutuhan masyarakat yang juga berhubungan dengan ekonomi yang contohnya saja harga untuk sehat saja sangat mahal. Bayangkan saja untuk operasi membutuhkan biaya sangat mahal dan tidak terjangkau oleh masyarakat yang ekominya menengah kebawah. Apakah yang berhak menerima layanan kesehatan dari Negara hanya masyarakat yang ekonomi menengah keatas ? Apakah pemerintah telah berfikir cerdas tentang ini semua ? ataukah hanya berangan-angan saja? Coba berfikir apa yang menyebabkan biaya operasi itu mahal saja, Asumsi saya sebagai orang bodoh yang mungkin tidak tahu masalah kesehatan, berapa harga obat bius yang anda beli dari mengImport? Saya tidak tahu itu semua tapi mungkin saja itu sangat mahal. Dari sini bisa kita telaah lagi apa yang menyebabkan itu semua? Tentunya kita hanya bisa mengkonsumsi ( membeli ) hasil ekspolitasi kapitalis global.
Coba pemerintah membangun Fasilitas untuk menanam Opium tetapi tentunya dengan pengamanan dan manajemen yang sangat handal, dan setelah itu digunakan untuk keperluan kesehatan contohnya saja obat bius(penenang), bukan untuk deselewangkan dan disalahgunakan untuk menjadi barang yang Haram, tapi untuk kesehatan. Karena ini semua ada hubungannya dengan ekonomi.
Hai Masyarakat Umum khusunya Masyrakat Madura ! sekali lagi jangan tertipu dengan slogan “Pembangunan Ekonomi” jangan sampai Madura sebagai Objek Pembangunan ekonomi yang bias oleh kaum Kapitalis.
Perhatikan Slogan ini “Pembangunan Ekonomi Madura” apa yang terkandung di dalamnya masih bias, hanya “Pembangunan Ekonomi Madura”
Bukan “Pembangunan Ekonomi Masyarakat Madura” dan seharusnya Bukan “Pembangunan Ekonomi Masyarakat Madura” bukan ““Pembangunan Ekonomi Madura” kerana dalam Kalimat ini termuat Makna “Madura Sebagai Objek Pembanguan Ekonomi”, tapi subjeknya siapa?(kaum kapitalis) dan siapa yang akan menikmati pembangunan itu? Apakah Masyarakat(rakyat) Atau Para Kaum Kapitalis dan para Pejabat Tinggi? Jangan lihat nanti,! Tapi berfikirlah untuk mengatisipasi itu. Jangan sampai kapitalisme masuk Madura Pasca Pembangunan SuraMadu.By : Hanafi Sukoco
PC IMM BANGKALAN

MUSCAB I PC IMM Kabupaten Bangkalan

Setelah merenta asa selama satu tahun akhirnya sudah habis juga masa aktif Immawati Intan Sebagai Ketua Umum PC. IMM Kabupaten Bangakalan periode 2007-2008. Dan berdasarkan hasil hasil MUSCAB I PC. IMM Kabupaten Bangkalan yang dilaksanakan tanggal 12-13 April 2008 terpilih Immawan Miftahul Ilmi sebgai Ketua Umum PC. IMM Kabupaten Bangkalan periode 2008-2009. Semoga dengan kepemimpinan baru ini PC. IMM Kabupaten Bangakalan senantiasa berkibar dan tertawa, sesuai slogan tim suksesnya "Pilih Ilmi atau tidak tertawa seumur hidup", kita buktikan apakah Immawan ilmi dapat mengibarkan PC. IMM Kabupaten Bangkalan.

Berikut adalah suasana MUSCAB yang penuh dengan kekeluargaan:


PC IMM BANGKALAN

Assalamualaikum

Alhamdulillah setelah 1 tahun PC IMM Bangkalan bergerak, sekarang dapat me launching BLOG PC IMM BANGKALAN .semoga dengan adanya blog ini dapat membantu dan memperlancar atiivitas.